Kabut, Embun dan Jenis Udara Permukaan

Kabut, Embun dan Jenis Udara Permukaan

Kabut, Embun dan Jenis Udara Permukaan
Kamis, 09 September 2021

Permukaan bumi selalu memancarkan radiasi gelombang panjang (inframerah) secara terus menerus. Sehingga malam hari, tentunya suhu permukaan akan rendah bukan? (ingat bahwa sumber panas adalah matahari, sehingga pada malam hari suhu akan rendah karena tidak adanya sumber panas dan benda-benda tersebut terus memancarkan panasnya).

 

  Pada saat suhu udara sudah cukup rendah, udara akan mencapai titik embun - temperatur batas terjadinya saturasi atau penjenuhan. Uap air yang berada pada sekitar titik ini kemudian akan mengalami kondensasi dan membentuk butiran-butiran air yang kemudian dikenal sebagai embun atau dew. Apabila suhu lingkungan berada di bawah freezing point, yang terbentuk adalah embun beku atau frozen dew.

 

Anda Mungkin Suka:

Unsur-unsur Iklim & Perubahan Iklim

5 Gas Penyusun Atmosfer

Lapisan Atmosfer: Suhu, Komposisi & Sifat Kelistrikan


  Fenomena pengembunan umumnya terjadi di beberapa meter di atas permukaan, karena daerah ini yang merupakan daerah dengan suhu terendah pada malam hari (karena udara lebih tinggi akan menerima radiasi inframerah yang dilepas oleh permukaan). Embun yang terbentuk di daerah lintang menengah dapat mencapai 50 mm.

 

Embun

  Embun akan lebih banyak terbentuk pada malam yang cerah, karena permukaan dapat melepaskan panasnya tanpa dihalangi oleh awan-awan yang ada pada malam yang mendung. Terkadang, suhu udara dapat menjadi sangat-sangat rendah, sehingga yang terbentuk adalah es tanpa melalui fasa cair lagi, yang kemudian dikenal sebagai frost. Frost dikenal juga sebagai hoarfrost atau whitefrost. Bedakan dengan frozen dew, karena pada frozen dew terdapat transisi pada fasa cair (jadi uap airnya menjadi air dulu, baru kemudian membeku), Frost dibedakan dengan frozen dew dari penampakannya yang berupa kristal es.


Frost
 

  Haze merupakan lapisan garam atau debu yang tersuspensi di suatu daerah. Umumnya, haze ini dapat dikenali dengan menurunnya visibilitas atau jarak pandang dan juga semacam perubahan warna pada permukaan karena sifatnya yang menghamburkan cahaya yang datang (dikenal sebagai scattering). Apabila partikel-partikel yang tersuspensi bersifat higroskopis (atau pengikat air), kondensasi dapat juga terbentuk karena partikel tersebut dapat berfungsi sebagai inti kondensasi.

 

Haze

  Kabut, atau yang dikenal sebagai fog sebenarnya merupakan perkembangan dari haze yang sudah terbentuk, Apabila kelembapan cukup tinggi dan banyak terdapat inti kondensasi, uap air akan terkondensasi dan akhirnya membentuk lapisan yang menyerupai awan di dekat permukaan, sehingga umumnya didefinisikan sebagai awan yang berada di dekat permukaan.

 

Anda Mungkin Suka:

Angin: Gaya Pembentuk Angin & Faktor-faktor Kecepatan Angin

Jenis-jenis Angin (Lokal, Regional & Global)

 

  Kabut secara umum terbetuk akibat dari pendinginan uap air sehingga mencapai itik jenuh dan pencampuran dua udara yang berbeda, sehingga dapat dibagi pula menjadi beberapajenis menurut pembentukannya:

 

  1. Kabut radiasi (radiation fog) yaitu kabut yang terbentuk akibat pendinginan permukaan bumi melalui proses pelepasan panas, sehingga uap air akan terkondensasi (mirip dengan pembentukan umum), dengan catatan banyak terdapat inti-inti kondensasi
  2. Kabut adveksi (advection fog), yaitu kabut yang terbentuk apabila terdapat angin yang membawa uap air melalui daerah yang dingin. Misalkan terdapat udara yang berasal dari laut (tentunya memiliki banyak uap air) pindah ke daerah yang dingin (misalnya daratan). Kondensasi akan terbentuk, sehingga kabut juga akan terbentuk.
  3. Upslope fog yaitu kabut yang terbentuk ketika ada parsel udara yang lembap yang menaiki suatu topografi secara paksa, sehingga parsel tersebut mengalami pendinginan secara adiabatis (seperti pada pembentukan hujan orografis).
  4. Evaporation (mixing) fog yaitu kabut yang terbentuk karena adanya pencampuran dua udara dengan sifat yang berbeda. Perhatikan contoh kasus berikut.

 

Misalkan terdapat dua parsel udara dengan spesifikasi berikut: 




Diketahui bahwa mixing ratio, atau perbandingan massa uap air per kilogram udara adalah 10.8 di udara panas dan 1.2 di udara dingin. Ingat kembali bahwa rumus RH (kelembapan relatif) adalah mixing ratio dibagi dengan saturation mixing ratio, Saturation mixing ratio, yaitu uap air maksimum pada suatu parsel yang jenuh, dapat ditentukan dengan tabel berikut (karena merupakan suatu variabel yang konstan pada suhu tertentu).

 

Anda Mungkin Suka:

Stabilitas Atmosfer: DALR & SALR

Menentukan Stabilitas




Mari kita hitung RH awal, yaitu:

  1. Parsel panas, suhu 20 derajat celsius maka saturation mixing ratio adalah 15.0. RH - 10.8/15,0 - 72 persen  -> belum mencapai titik embun sehingga tidak terjadi kondensasi.
  2. Parsel dingin, suhu -10 derajat celsius maka saturation mixing ratio adalah 1.8. RH - 1.2/1.8 - 67 persen ->  belum mencapai titik embun sehingga juga tidak terjadi kondensasi.

 

  Kemudian, mari kita anggap kedua parsel tersebut bercampur, dengan suhu akhir sekitar rata-rata dari dua parsel (20-10)/5 - 5 derajat celsius. Mixing ratio sekarang adalah (10.8t1.2)/2 - 6 g/kg. Mari kita tentukan lagi RH dari parsel baru kita. Saturation mixing ratio adalah 5.5, sehingga RH - 6.0/5.5 = 1.1 persen, sehingga telah melampaui titik jenuh dan terjadi kondensasi.

Begitulah dasar teoretis tentang terbentuknya air akibat mixing.


Video pembelajaran terkait proses terbentuknya embun

Youtube source: Halo Edukasi

Bagaimana Proses Terbentuknya Embun?

Kabut, Embun dan Jenis Udara Permukaan
4/ 5
Oleh
Open Comments
Close comment

1 komentar

  1. Terimakasih telah berkunjung di Radar Sastra.. Ceritakan pengalamanmu selama menjelajah di blog ini dengan menuliskannya di kolom komentar ini yah..

    BalasHapus