Strategi Licik Belanda Menumpas Islam Politik

Strategi Licik Belanda Menumpas Islam Politik

Strategi Licik Belanda Menumpas Islam Politik
Minggu, 27 Juni 2021

  

  

  Pada masa perang Aceh yang terjadi pada 1873-1904, dalam rangka untuk mengetahui kekuatan ulama Aceh dan peranan Mekkah, Kerajaan Belanda mengutus Christiaan Snouck Hurgronje, saat itu Aceh sulit untuk ditaklukkan jika hanya mengandalkan kekuatan senjata, mereka menyadari bahwa Islam-lah yang menjadi sumber kekuatan rakyat Aceh.

  

  Snouck Hurgronje seorang pakar Agama Islam dan Bahasa Arab pun direkrut, dia adalah putra keempat pasangan Pendeta JJ. Snouck Hurgronje dan D. Christian de Visser. Pada 1880, Snouck sukses meraih gelar doktor sastra arab dari Universitas leiden. Saat menjadi Mahasiswa Leiden, Snouck pernah mengatakan, "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan agar terbebas dari Islam" untuk mempelajari Islam dia berpura-pura masuk Islam dan berhaji ke Mekkah pada tahun 1884. Dia memilih nama islami, Abdul Ghaffar dan berpakaian sebagaimana muslim lainnya. Dalam suratnya dia mengatakan bahwa masuk Islam untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.


  

  Antara tahun 1898-1903, Snouck Hurgronje sering pergi ke Aceh untuk membantu Joannes Benedictus Van Heutsz. Van Heutsz adalah gubernur sipil dan militer belanda untuk wilayah Aceh. Dalam bukunya, Snouck Hurgronje menuliskan rekomendasi strategi untuk mengalahkan perlawanan umat Islam di Aceh. Snouck menganggap Islam sebagai ancaman. Islamlah yang memberikan semangat fanatisme di kalangan pemeluknya. Islam pula yang membangkitkan rasa benci terhadap penjajah kafir belanda. Ulama dianggap sebagai motor penggerak perlawanan dan harus dihabisi. Snouck memformulasikan pemeluk islam menjadi tiga kategori, bidang agama murni, bidang sosial kemasyrakatan dan bidang politik. Bagi Snouck, musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, namun Islam sebagai doktrin politik.

  

  Dalam hal ibadah, pemerintah hindia belanda direkomendasikan agar memberikan keebasan umat Islam untuk beribadah dan menjalankan kepercayaan agamanya, selama tidak menganggu kekuasaan penjajah belanda. Islam diupayakan menjadi "agama masjid" saja. Adat istiadat [local wisdom] juga diupayakan dibangkitkan kembali untuk mereduksi pengaruh Islam. Jika pun ada hukum Islam maka harus disesuaikan dengan adat istiadat mansyarakat setempat.

  

  Dibidang kemasyarakatan harus digalakkan pendidikan yang netral dari unsur agama [sekularisme]. Dalam bidang politik, pemerintah diusulkan untuk menolak setiap usaha yang membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan Islamisme [persatuan umat Islam sedunia]. Bagi snouck hurgronje, Islam politik harus dihindari, dibatasi bahkan harus dilarang. membiarkan Islam politik sama saja akan melahirkan fanatisme agama yang kelak akan berbahaya bagi penguasa kolonial. Bila diperlukan, Islam politik harus ditumpas melalui kekerasan dan kekuatan senjata.

  

  Setelah Islam politik ditumpas, pemerintah harus segera bergerak memberikan pendidikan dan kesejahteraan, agar masyarakat pribumi mempercayai maksud baik pemerintah kolonial. Setelah berpuluh tahun berperang, strategi licik Snouck Hurgronje berhasil membuat aceh jatuh ke tangan penjajah.

  

  Tanpa kita sadari hingga saat ini musuh Islam juga menggunakan taktik yang serupa, mereka membiarkan umat Islam untuk beribadah dengan sebebas-bebasnya, namun berusaha mengekang dan melawan ideologi "politik islam". Wahai umat islam, sadarilah... dan jangan pernah lupa dengan sejarah...


Diupdate 19 September 2021

Strategi Licik Belanda Menumpas Islam Politik
4/ 5
Oleh