Cerpen | Dasar, Bodoh!

Cerpen | Dasar, Bodoh!

Cerpen |  Dasar, Bodoh!
Jumat, 30 April 2021


  Nova, Wanita yang kerap dijuluki sebagai Piala Bergilir , tidak jauh dengan arti dari istilah Playgir. Tiada satupun orang yang dapat menandingi kecantikannya, kecerdasannya, keahliannya, dan semua yang ia miliki. Dia begitu licik. PHP .

  Semua cowok panggang, jika seseorang memiliki daftar yang ia sukai, maka Nova -lah yang mendapatkan peringkat pertama. Satpam Sekolah yang jomblo bahkan memiliki daftar seperti itu. Semua orang di sekolah itu tahu. Beruntunglah orang yang satu sekolah dengan dia.

  Nova memiliki rambut panjang hitam dengan beberapa campuran warna di ujung rambut panjangnya. Dia putih. Tinggi. Bibirnya begitu seksi. Bertubuh ideal. Dan matanya biru. Begitu deskripsi umumnya, tapi jika lelaki berhidung belang yang menjelaskan maka akan penuh satu buku catatan tebal. Pokoknya semua cowok menerapkan kecuali dia.

                                                                        ~ ## ~

  Nova Novalu berangkat terlambat ke sekolah. Tujuannya? Agar dia bisa dilihat oleh cowok cowok yang minat dengan dia, yang ingin dia bersama dia, tapi tak mungkin. Nova bahkan sering berdoa cowok lain. Membuatnya salah tingkah. Pernah ada satu cowok –begitu menyakitkan sekali si dia. Dia mulai PDKT , Nova rilis klepek-klepek . Si cowok yang bernama Sandy ini terus melanjutkan Nova . Hingga akhirnya dia menembaknya, dan dia ditolak oleh Nova . Begitu menyakitkan, kan? Sudah PDKT lama-lama tapi tetap ditolak. Bukan satu sebenarnya, tapi banyak.

  Setiap harinya, sebelum mata pelajaran dimulai, saat istirahat, saat sepulang sekolah, saat ekstrakurikuler , di sekolah, di perjalan ke sekolah, perjalan ke rumah, di luar rumah, di supermarket , dan bahkan di dunia maya Nova pasti mendapatkan seseorang yang mengutarakan cintan ya . Setiap harinya pasti ada. Siswa, orang yang tidak ia kenal, bahkan gurunya sekalipun ada.

  Nova sudah menganggap hal ini sudah biasa, tetapi, pasti dia akan merasa bosan dan jengkel terhadap perilaku mereka semua.

                                                                        ~ ## ~

            Hingga suatu saat…

  Nova melangkah masuk ke ruang kelasnya. Dia duduk di bangkunya, bangku paling belakang. Pastinya dia yang diberikan tatapan sinis cewek lain yang cemburu dengan dia. Bahkan, pernah ada yang bertengka r dengan nya .

  Dia mulai membuka buku catatannya –sebuah diary . Menulis sebuah kejadian yang terjadi tadi pagi, seseorang menembak -nya lagi.

                                                                        ~ ## ~

            Istirahat pertama…

  Nova keluar dari kelas, sedetik setelah bel penanda berbunyi. Ia berlari kencang, ia tidak ingin bertemu dengan cowok lain. Tiba di kantin membeli sebuah roti bungkus dan sebotol minuman, tapi terlambat. Ia tidak masuk ke ruangan kelasnya sebelum kantin menjadi ramai.

  Semua cowok memerhatikannya, ceweknya begitupula dengan tatapan sinis. Nova mulai merasa geli. Berjalan ke kelas dengan pandangan menunduk. Semua cowok menatapnya tertawa, Begitu cantik dia, “Coba lihat rambutnya itu , ” “Matanya begitu indah , ” “Wow, tubuhnya sangat ideal , ”, itu menggelitik telinganya. Nova mulai marah, tapi tetap ia pendam. Ia mulai kesal

  Nova berjalan menuju kelasnya, menambah kecepatan berjalannya, hingga ia tiba di kelas. Ia kaget, tidak ada satupun siswa kecuali si lelaki misterius itu. Nova mulai tersanjung, hanya cowok itu yang tidak tertarik dengan dia, hanya dia. Nova berjalan terbata-bata ke kursinya, menarik kursinya lalu duduk dengan santai. Melihat sekejap lelaki itu, membuka bungkusan roti, merobek setengahnya lalu Nova menjulurkan roti itu ke siswa di sebelah tempat duduknya, “Kamu mau ?”

  Si cowok ini membalikkan badannya, ia adalah peringkat ke-2 di kelas Nova. Namanya Fauzan, biasa dipanggil AAF. Rambutnya cokelat, tinggi, berisi, tidak begitu ahli sebenarnya dalam olahraga, tapi dalam seni, jawabannya iya. Ia adalah tandingan bagi Nova dalam dunia pendidikan, tapi tetap saja Nova yang menang. Dia begitu baik dan rendah hati. Dan dialah satu-satunya di sekolah ini yang sedikitpun tidak tertarik dengan Nova.

  Ocang memandang Nova, Nova langsung kaget, ia merasa ada yang aneh, jatuh cinta mungkin? Aaf tersenyum, tertawa kecil, membuka mulut, mengatakan “Maaf, aku sama sekali tidak menginginkan sesuatu dari kamu,”

                                                                        ~##~

  Pelajaran dilanjutkan lagi. Nova terus menatap Aaf, ada aneh dengan dia. Sudah jelas Nova sudah tahu, Aaf sama sekali tidak tertarik dengan Nova. Nova malah yang tertarik dengan Aaf. Diantara istirah pertama dan kedua, Nova terus memerhatikannya, mengabaikan pelajaran, mem-bodoamatkan guru yang menjelaskan.

  Nova bahkan gugup untuk bicara dengan dia, di jam istirah kedua –yang lebih panjang daripada istirahat pertama, ia bahkan tidak dapat berbicara dengan dia. Nova sempat mendekatinya, tapi tiba-tiba mulutnya terbungkam, tidak bisa berbicara. Nova mulai bingung, bertanya-tanya dalam kepalanya, bagaimana caranya ?

  Ia hingga menemukan sebuah akal, sekaligus menyelesaikan masalah yang setiap hari ada dengan dia, yakni masalah ketika cowok-cowok mendekatinya. Dia akan menyelesaikannya setelah sepulang sekolah nanti ini. Sepulang sekolah ini, Nova akan menanyakannya pada Aaf.

  

                                                                      ~##~


            Sepulang sekolah…

  Nova keluar segera dari kelas setelah bel penanda pulang berbunyi. Tujuannya adalah menunggu Aaf dari luar sekaligus menghindari cowok-cowok yang Novalu memerhatikannya.

  Nova menunggu di bawah pohon, disebelah ayunan berwarna merah.  dia menunggu Aaf daritadi, tapi tidak kunjung datang. Nova mondar-mandir, meninggalkan pohon itu. Secara tidak sadar, Aaf ternyata berpapasan dengan Nova, tapi Nova tidak mengetahuinya.

  Sampai ia sadar, ketika ia membalikkan badannya dan mengetahui kalau Aaf berpapasan dengannya tadi. Ia mengejarnya, berlari cepat dan menepuk pundak Aaf. “Tunggu aku,”

  Aaf berbalik badan , tak peduli. Aaf lalu membalikkan badannya lagi, berjalan pulang. Nova mulai kesal dan berteriak kearah Aaf. Lalu dilanjutkan dengan sebuah kalimat “Kamu mau tidak jadi pacar palsu ?”

  Aaf membalikkan badannya lagi, dan jelas bahwa Aaf akan menolaknya, “Aku jelas tidak mau,”

  Terjadi percekcokan, Nova terus memaksanya, dan Aaf terus menolaknya. Nova terus menjelaskan positifnya dia menjadi pacar palsunya. Aaf tetap tidak menolak. Nova tidak menyerah, ia terus menjelaskan. Hingga akhirnya dengan sebuah pesan: Aaf menerimanya.

                                                                        ~ ## ~

  Keesokan harinya. Aaf berangkat bersama dengan Nova. Tentu saja, Aaf tidak ikhlas dengan janjinya ini, bodohnya ia menerimanya. Aaf terus berada digenggaman Nova. Berjalan bersama menuju ke sekolah. Semua orang memerhatikannya, sebentar lagi akan tersebar di dunia maya.

  Setiba di sekolah. Aaf merasa geli dengan genggaman Nova. Nova dengan senangnya membuat semua cowok di sekolah itu menjadi cemburu, marah-marah, tetapi akan berbeda dengan ceweknya, mereka senang, mendapatkan peluang mendapat cowok idaman mereka.

  Nova dan Aaf tiba di kelas, mereka duduk bersebelahan bukan ? Jadi, mereka berjalan sampai ke belakang, semua cewek di kelas itu mulai bergosip tentang mereka. Cowok-cowoknya ? Mereka keluar dari kelas itu, ada yang menangis, marah, cemburu, dan perasaan lainnya, tentu saja ada.

  Pelajaran dimulai, Nova sangat semangat memulainya, berbeda dengan Aaf yang pikirannya sedang kacau.

  

                                                                      ~##~


            Sepulang sekolah…

  Aaf tidak bersama Nova keluar dari kelas. Aaf langsung menuju ke lokernya, dia melupakan sesuatu. Setiba di jejeran loker. Aaf langsung membuka lokernya dan Tushh…, kertas-kertas dan sampah keluar dari loker tersebut. Membuat loker itu berantakan. Bukan hanya itu, juga terdapat coretan warna-warni dengan bahasa kotor di lokernya.

  Aaf marah, mengepalkan tangannya, menundukkan tangannya.

            “Aaf !” seseorang memanggilnya, Aaf lalu berbalik, itu Nova.

            “Mengapa kamu yang datang Nov ?” Ia tambah kesal

  Nova mendekatinya, memeluk tangan kirinya, “Hei.., sudahlah.., ayo kita keluar ke kota sama-sama, kencan pertama kita, sayang,”

  Aaf hanya menatapnya sebentar, dari tatapan itu jawabannya adalah iya. Mereka berjalan pelan mengabaikan loker kotor itu, keluar dari gerbang sekolah dan menjalani kencan pertama mereka.

                                                                        ~##~

  Mereka menuju ke pusat kota. Bermain-main disana. Aaf masih kesal dengan perbuatan teman cowoknya yang cemburu terhadap dia, padahal mereka hanya pacaran palsu.

  Nova berusaha untuk membuat Aaf tersenyum, Nova terus mengusulkan tempat-tempat yang bagus untuk mereka kunjungi. Nova terus menanyakan itu disetiap mereka berjalan, dan jawaban hanya kata iya, hanya itu saja.

  Di sepanjang jalan, Nova tidak pernah ingin melepas genggamannya. Nova terus berusaha membuat Aaf tersenyum. Dengan menggunakan kecerdasannya, membantu memperbaiki perasaan Aaf. Susah, tapi semangat Nova tidak pernah padam untuk itu.

  Nova membawanya ke wisata kuliner, memakan makanan setempat. Nova menikmatinya, Aaf tidak sama sekali. Nova berusaha mencari akal, hingga mendapat suatu tempat menarik, Game Station.

  Saat melihat muka cemberut Aaf, Nova langsung menarik tangannya, menyeret dia ke Game Station terdekat. Nova menariknya, menuju ke tempat itu yang berjarak sekitar 150 meter. Mereka tiba, terdengar music atau suara dari mesin game dari  dalam bangunan setinggi 20 meter itu.

  Nova berjalan menuju ke kasir, mengeluarkan uangnya membeli tiket termahal untuk mereka berdua. Nova lalu berjalan menuju game pertama, Nova tidak tahu nama game itu, yang dia tahu adalah cara bermain itu adalah menangkap boneka dari bawah dengan mengambilnya menggunakan sebuah besi penangkap.

 Tiba disana, Nova langsung menggesekkan kartunya, menggerakkan penangkap itu, memencet tombolnya, dan dia gagal. Aaf melihatnya dengan tatapan yang berarti “Kamu bodoh, Nov”. Aaf menggeser badan Nova, “Biar aku,”. Aaf mengambil kartu dari tangan Nova, menggesekkannya. Dengan cepat, Aaf mengontrol penangkap itu, memencet tombol dan dia berhasil. Aaf mengambil bonekanya dari lubang yang ada di bawah scanner kartu. Sebuah boneka kucing berukuran agak besar. Aaf lalu memberikannya ke Nova, “Untuk kamu,” . Nova tersenyum lalu memeluk Aaf. Dalam pelukan itu, perasaan kesalnya mulai menghilang. Dalam pelukannya, ia akhirnya tersenyum.

                                                                        ~##~

  Mulai dari kejadian itu, Aaf terus tersenyum, kesalnya dikalahkan oleh kesenangan dari pelukan Nova. Beberapa game mereka coba, begitu menyenangkan bagi mereka berdua. Tawa menghiasi mereka. Senyum menjadi topping kencan mereka. Sangat seru.

  Sampai isi tiket gamenya habis, mereka tak henti-hentinya bermain game. Isi tiket itu terbatas dan akhirnya bakalan habis juga. Setelah isi tiket itu habis, mereka membuang tiket itu –padahal masih bisa diisi ulang—lalu pergi ke tempat lain. Begitu banyak tempat telah mereka datangi, hampir semua tempat penting. Tempat terakhirnya adalah taman bermain, tempat dimana cerita ini berakhir.

                                                                        ~##~

            Di Taman Bermain…

  Mereka begitu senang, saat itu salju turun. Sebuah bertanda buruk bagi beberapa cerita. Mereka bermain di bawah pohon, dengan sebuah ayunan yang tergantung di pohon itu. Mereka berdua kedinginan, akhirnya tanpa segan segan mereka berpelukan. Begitu nyaman, itu yang ada dalam benak mereka. Hangat.

  “Kamu mau tahu, Aaf, aku begitu heran denganmu sebenarnya, tapi, bukan itu yang ingin aku beritahu ke kamu. Aku menyukaimu, itu yang ingin aku beritahu, jadi kamu berhak mendapatkan ini.” Nova mengeraskan pelukannya, tidak ada jarak sedikitpun dari kedua tubuh mereka. Secentipun tidak. Air mata Aaf berjatuhan, ia menangis, sedih karena terharu.

  Aaf membuka mulutnya yang daritadi awan, ucapan “Aku juga menyukaimu, bahkan mencintaimu, Nov. Kamu begitu cantik. Jadi, kamu berhak mendapatkan ini, ”Aaf menatap sebentar mata Nova. Lalu mendekatkan bibirnya, ingin mencium Nova. Akan tetapi, Nova tiba-tiba menutup mulutnya, menahan ciumannya, Aaf hanya mencium.

  Nova mundur beberapa langkah dari Aaf. Aaf kaget dan heran. Apa yang terjadi?. Nova tertawa kecil, tersenyum sinis. Nova lalu menggoyangkan akibat akibat terkena air mata Aaf. Nova tertawa lagi, sedikit lebih keras dari tawa kecilnya tadi. Nova tertawa lama, hingga Aaf bertanya “Mengapa?”

  Nova tidak menjawab, melanjutkan tawa kecil dan begitu sinisnya. Nova akhirnya membuka mulut, dan akhirnya sebuah kalimat dengan iringan tawa sinisnya “Akhirnya kamu menyukaiku dan akhirnya semua lelaki menyukaiku,”

 

                                                                                                 Watampone, 11 Oktober 201 9

 Oleh. Muh. Daffa Intanio M. Siswa SMA Islam Athirah Bone

Cerpen | Dasar, Bodoh!
4/ 5
Oleh