Daring Tak Baik Untuk Mental Health Kita? Mari Beropini | Online School Edition Part. 2

Daring Tak Baik Untuk Mental Health Kita? Mari Beropini | Online School Edition Part. 2

Daring Tak Baik Untuk Mental Health Kita? Mari Beropini | Online School Edition Part. 2
Minggu, 14 Maret 2021

  Dilihat dari berbagai sudut pandang dan perspektif siswa, ternyata bukan malah enjoy dengan pembelajaran daring, tetapi malah bikin tertekan dan mudah boring. Mengapa? 

Sumber: Dokumen Pribadi

Mari Beropini. 

  Khususnya dari sudut pandang dan pendapat kita pribadi sebagai murid. 
Ekspektasi semua siswa pasti sangat senang jika kita libur/belajar dari rumah. Bahkan itu adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu ketika sudah memasuki akhir semester. Yaps, kita akan merencanakan berbagai kegiatan piknik, nongkrong bareng kawan, dan berkunjung ke rumah kerabat. Wah rasanya seperti hari yang menyenangkan jika itu tiba. 

  Ngomong-ngomong tentang menyenangkan, sekarang sudah hampir setahun nih kita bisa dibilang " Libur " Bagaimana? Luar biasa bukan? Iya tidak? 
Keadaan yang tidak pernah kita duga memang bisa kapan saja terjadi. Salah satunya pandemi COVID-19 yang tiba-tiba datang tak diundang ke negeri kita tercinta, Indonesia. Bermula dari Kota Wuhan, China kemudian menyebar hampir ke seluruh negara di dunia. 
Siapa yang mau disalahkan? Mau mendiskriminasi China pun gak fair rasanya. Intinya memang ini sudah ditakdirkan terjadi begini ya mau mengelak bagaimana lagi? 

  Kita hanya bisa mengusahakan  pencegahan dan meminimalisir bertambahnya angka kematian akibat COVID-19. Dan harus mematuhi protokol kesehatan yang ada agar pandemi ini bisa segera berakhir. 
Salah satu kebijakan pemerintah adalah dengan meliburkan semua sekolah termasuk perguruan tinggi dalam beberapa waktu (yang nyatanya hampir setahun hehe) 
Awal-awal libur, masih ingat sekali nampaknya. Yakni dibulan Maret. Dimana lahirnya kata-kata "Sekolah akan libur selama 2 minggu" Hahaha, meme yang masih segar sampai sekarang rupanya. 
Waktu itu masih sangat gembira, bahkan sangat menikmati hari-hari libur. 

  Jika kita bandingkan dengan keadaan yang sekarang? Justru berbalik 360° 
Jenuh, bosan, lesu, sudah menjadi mood kita sehari-hari. 

  Perlu diketahui, bahwasannya semua profesi. Tak hanya pelajar. Melainkan guru, pegawai kantoran, buruh, dan sebagainya juga merasakan hal yang tidak kalah beratnya dibanding kita. 
Jika di fikir, seharusnya kita harus lebih bersyukur masih merasakan nugas yang datang setiap hari. Tetapi kebanyakan, kita merasa seakan kitalah yang paling banyakugasnya, yang paling jemu hari-harinya. Dipikir mereka tidak?. 
  Sebaliknya jika kita membandingkan dengan kegiatan guru, buruh, pedagang, dan pekerja lain masih sangat ringan tugas kita. 
  Guru, mereka tidak hanya memberi kita tugas di kelas kita saja. Tapi juga kelas lain. Belum lagi anak-anak mereka yang juga harus sekolah daring, membuat tugas dan pembelajaran pada kita agar sebisa mungkin tidak membosankan. Dan mereka juga butuh pemasukan, dan pembiayaan makan minum sehari-hari. 
  Sedangkan kita? Masih bersyukur tinggal memakan makanan yang disajikan ibu. Bersyukur kita masih bisa scroll hp dan malas-malasan dikasur. 

  Maka dari itu, yang terpenting adalah bagaimana mengatur pola pikir kita. Masalah kesehatan mental tidak hanya kaum muda saja yang rentan. Tetapi kaum dewasa juga lebih sering. Karena kebutuhan mereka dan tanggung jawab mereka jauh lebih banyak. 
  Jika kalian merasa jenuh, bosan, lesu, silakan dibawa rileks dan hp an tidak apa-apa. Daripada jika kamu paksakan akan jadi lebih stres. 
  Jangan banyak berpikir berlebihan, mengurangi hal-hal yang mengganggu fokusmu. Yang kamu kelola sekarang sebagai pelajar adalah bagaimana tetap menjalankan tanggung jawabmu untuk tetap belajar. 
Dibilang susah, ya memang susah. Kalau mudah ya gak perlu capek-capek memahami bukan? 

"Bersyukur adalah cara terbaik untuk menghadapi peliknya masalah, dan bertahan dengan keadaan adalah cara terbaik daripada pasrah dan menjadi lemah"
Daring Tak Baik Untuk Mental Health Kita? Mari Beropini | Online School Edition Part. 2
4/ 5
Oleh
Open Comments
Close comment

2 komentar