Artikel prestasi, Kahar Ali : Kiprah Alumni di Ranah Dua Benua

 Kahar Ali: Alumni Kiprah di Ranah Dua Benua 

Oleh Miftahul Khaera 

Nama: Kaharuddin Ali 

Tempat Lahir: Bone

Tanggal Lahir: 21 Desember 1995

Hobi: Olahraga

Cita-cita: Duta Besar Indonesia di Turki 

Motto: 

Jangan Karena sudah sukses di tanah rantau, kamu lupa tanahmu sendiri. Disana kamu dibutukan. 

Alamat: Konya  

Riwayat Pendidikan: 

• SD 12/79 Polewali                                    

• SMP 4 Watampone                  

• SMA Islam Athirah Bone                                   

• Universitas Selcuk, Turki 

  Badan yang tegap lagi berotot, wajah garang, mata yang menggambarkan sosok yang inspiratif berhati lembut yang religius. Lelaki kelahiran Bone, 21 Desember 1995 ini menempuh pendidikannya di SD Inpres 12/79 Polewali, kemudian di SMP 4 Watampone dan selanjutnya menemukan titik terang hidup menuju Turki lewat Sekolah Islam Athirah Bone. 

  Tak seindah kehidupan anak kecil lainnya, kesulitan yang berhasil dalam hidup kian menghiasi. Kala itu, masih pada masa industri 2.0, dimana eksistensi teknologi belum tersentuh bagi seluruh masyarakat desa. Orang-orang di kampung dipenuhi oleh ajaran-ajaran mitos dan legenda- legenda lokal yang turun temurun oleh orang tua. Tak ayal jika waktu kecil Kahar senang sekali menonton sinetron- sinetron. Demi menonton sinetron - sinetron tersebut, ia berjalan kurang lebih 2 km dari kampung tiap malamnya bersama warga kampung lainnya. Sekiranya setiap jam delapan malam mereka sudah tiba di rumah salah seorang warga yang punya TV ukuran 14 inci di sana. Terkadang, ia berangkat lebih awal untuk mendapatkan tempat paling depan.

  Saat itu, ia belum masuk sekolah, umurnya masih sekitar lima tahun. Ia ingat sekali ketika menonton iklan sepatu yang diperankan oleh anak berbaju SMP sambal bernyanyi. Meskipun ia tidak mengerti bahasanya karena belum terlalu memahami bahasa Indonesia, tapi dari situlah ia mulai mengenal yang namanya pendidikan. 

   Di rumah, layaknya seperti anak-anak lainnya ia gemar bermain ‘mappappe’ (sejenis permainan ketapel) dan ‘mappagoli’ (permainan kelereng). Kejadian yang tak terlupakan, pada saat usia Kahar menginjak usia tujuh tahun. Saat ia bermain bersama teman-teman sebayanya. Lewatlah segerombolan anak SD dan meneriaki si Kahar

   “Huu, Loppo pa, na depa nassikola, loko mancaji aga mbe ?“  

  Artinya sudah besar kok belum sekolah, mau jadi apa kau nantinya. Ia hanya tertunduk malu dan sadar bahwa olokan anak-anak itu benar adanya. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, iapun menyampaikan niatnya untuk bersekolah kepada sang Ibu. Hal itu membuat mata ibunya pun memerah dan berkaca-kaca. Ibunya hanya mengatakan bahwa harus ada persetujuan dari ayah. Mereka pun menghadap ke sang ayah, namun bukan kata setuju yang didapatinya melainkan sebuah omelan dan kata – kata kasar 

  “Buat apa kamu sekolah, banyak orang yang tidak pernah sekolah mereka juga pintar, juga kaya. Kakakkakak mu juga tidak sekolah, tapi mereka pintar membaca, pintar berhitung. Jadi apa tujuanmu sekolah, untuk mengabiskan uang ?”

   Mendengar hal itu seolah tak ada lagi harapan untuknya bersekolah. Memang betul kata ayahnya. Biaya makan sehari-hari saja susah, apalagi masalah lainnya. Sehingga iapun lebih memilih menggugurkan niatnya daripada harus menyusahkan keluarga. Akhirnya menginjak usia delapan tahun, pekerjaan ia sehari-hari adalah mencangkul di sawah dan membantu ibunya mencari kayu bakar. Karena ibu dan ayahnya tidak  memiliki warisan dari orang tua mereka dan merekapun tidak mampu membeli sawah. Jalan satu-satunya yaitu menggarap sawah milik orang lain. Hasil padi yang nantinya dihasilkan akan dibagi dua antara pemilik dan penggarap sawah. 

   Itulah keseharian remaja berdarah bugis ini. Meskipun ia tidak bersekolah, tapi itu tidak menurunkan semangat ia untuk belajar. Ia memiliki tetangga bernama Nurhayati. Kala itu si Nurhayati duduk di kelas 5 SD, semangatnya untuk mengajari sosok tetangganya bak guru profesional. Mulai saat itu Kahar pun menghentikan kebiasaan untuk pergi antri menonton dan lebih memilih untuk belajar bersama Nurhayati. 

Menjemput Asa untuk Sekolah 

   Tak lama kemudian ketika ia berkunjung ke rumah kerabat di kota. Saat sampai disana ibunya berbincang dengan sang bibi dan seolah tergambar bahwa kesempatan bersekolah itu mulai ada. Dimulai saat ia berjalan di depan teras dan menemukan bungkusan rokok, Satu persatu tulisannya ia eja dan baca “ M-U-S-T-A-N-G “. Itulah  merek dari rokok tersebut. Tak ia duga disaat membacanya kerabat ibunya tak sengaja mendengar dan bertanya “Anak ibu sudah kelas berapa?“. Tanya kerabat. 

   Sontak ibunya tertunduk sembari mengatakan bahwa anaknya belum sekolah. Mendengar pernyataan tersebut si kerabat pun terkejut dan berusaha mempengaruhi Ibu Kahar serta menjelaskan bahwa di zaman sekarang pendidikan itu sangat penting. Mendengar hal itu, sang ibu pun lantaran mencoba menjelaskan bahwa ini bukanlah faktor ketidakmauan melainkan karena faktor ekonomi dan dilarang oleh sang ayah. 

   Mendengar pemaparan dari Ibu Kahar, si kerabat pun masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian ia keluar membawa kresek merah dan menyerahkannya kepada Ibu Kahar sambil berbisik mengenai sesuatu. 

   Kira-kira dua pekan setelah berkunjung ke rumah kerabatnya. Sekolah-sekolah mulai membuka penerimaan siswa baru. Namun disaat itu ia tidak pernah bermimpi untuk masuk sekolah di salah satu SD yang ada di desa sebelah. 

   Keesokan harinya, tepatnya di hari Selasa. Sang Ibu membangunkannya subuh-subuh sekali sebelum adzan 25 Ensiklopedi Prestasi berkumandang. Ia pun bingung karena ini tidak pernah terjadi seperti biasanya. Dengan langkah pelan, merekapun beranjak keluar rumah dan pergi menuju sumur yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Ia terus bertanya 

   “Ibu, kita mau apa?“ Tanyanya sepanjang jalan yang tak pernah direspon oleh ibu. 

   Sampai pada akhirnya, ia dimandikan di subuh yang sunyi itu. Sesampainya di rumah, ia berdiri menggigil di dekat tempat tidurnya. Ayah yang saat itu tertidur pulas, tidak menyadari keberadaannya di rumah. 

   Tak lama kemudian, datanglah sang Ibu dan memberikan isyarat yang menandakan ia tidak boleh ribut. Ia pun mengambil kresek merah tersebut yang berisi sebuah seragam putih yang agak kusam. Seragam itu pun ia kenakan dengan penuh rasa bangga. Ukurannya yang kedodoran dan resleting celananya yang rusaktak menyurutkan rasa bangganya waktu itu. 

   Tak hanya itu, ada juga sebuah buku dan sebuah pensil yang mirip seperti tusuk lolipop. Melihat hal itu Kahar pun tersadar bahwa ia akan masuk sekolah. Dengan mata penuh harap dan bangga ibunya berkata “Agguruki’ wa” . Yang berarti belajarlah sungguh-sungguh. 26 Ensiklopedi Prestasi Mendengar hal itu ia pun menaruh haru dan harapan bahwa ia harus menjadi orang yang berhasil kelak. Ibunya kemudian memeluknya, seolah itu adalah sebuah harapan, doa dan restu agar ia dapat menjadi Pattola Palallo (Orang yang melampaui batas). 

   Saat itu, waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi, Sang Ibu menyuruhnya bergegas berangkat. Inilah hal yang ia lakukan agar tidak diketahui oleh sang ayah. Dengan menggunakan sandal jepit, ia berlari dari rumah menuju sekolah yang jaraknya sekitar 2 km. Berbekal dari cerita teman dekatnya yang sudah bersekolah, ia hanya mengetahui sekolah itu berada di pinggir jalan raya yang jalannya menuju ke arah pasar yang biasa orang tuju.Ia sangat bersyukur akhirnya dapat bersekolah. 

   Keceriaan itu tiba berganti menjadi mencekam tatkala kembali di rumah dan melihat ayahnya yang telah berdiri di depan pintu dengan wajah memerah serta kayu di tangannya. Ia tidak pernah melihat wajah ayahnya seseram itu. Setelah mendekat di pintu mau tidak mau ia harus merasakan cekangnya pukulan dari sang Ayah. Mendengarnya menangis, Sang Ibu lalu datang menghampiri dan membela Kahar, namun hal naas yang didapatkannya, sang ibupun mendapat pukulan juga. 

   Setelah kejadian tersebut, sang ayah tidak pernah mengajaknya berbicara selama beberapa hari. Namun meskipun sakit di badannya serta rohaninya ia tetap berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan uang jajan. Dan untuk menutupi hal itu, ia membantu menjualkan es milik guru bahasa daerahnya di sekolah. Lumayan jika es habis ia diberi upah 500 rupiah. 

Usaha Keras Mendapatkan Biaya Sekolah 

   Kesulitan yang ia alami tak sampai disitu, ia bahkan pernah putus sekolah akibat SPP yang menunggak selama 2 bulan, iapun akhirnya berhenti sekolah. Terkadang ia merasa ingin kembali bersekolah untuk belajar, Namun apa daya sudah enam bulan lebih ia tidak masuk dan pasti biayanya bertambah. Sampai pada suatu hari, tetangganya yang juga temannya datang membawa kabar gembira bahwa ia kembali dipanggil bersekolah oleh guru agamanya tak hanya itu, ia akhirnya bisa bersekolah dengan tenang tanpa memikirkan biaya SPP karena saat itu, terjadi pergantian pemerintahan dari Megawati dan  Hamzah Haz ke pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhiyono dan Jusuf Kalla dengan salah satu programnya yakni pendidikan wajib 9 tahun dan biaya SPP untuk semua sekolah negeri dihapuskan.Biaya perlengkapan sekolahnya akan dibantu oleh sang guru agama, Ibu Hj Anugrah. 

   Tak sampai di situ, kemalangan seperti tak henti menerpa Kahar. Menjelang penamatan ia tak mampu membayar uang rekreasi sebesar dua ratus ribu. Itu adalah jumlah yang sangat banyak buat keluarganya. Ibunya tak mampu membayarkan uang sebesar itu. Sang ibu hanya bergantung kepada sang ayah mengenai keuangan. Ayahnya sebenarnya memiliki uang, bahkan lebih dari itu, tapi ia sangat pelit untuk mengeluarkan uang bagi urusan sekolah sang anak. Bagi ayahnya resiko harus ditanggung sendiri. Akhirnya ia pun tidak ke sekolah selama 2 pekan. Karena diancam ijazah tidak akan diberikan jika tidak membayar uang tersebut, maka ia memilih tinggal di rumah dan mencari solusinya. Melihatnya seperti demikian selalu murung dan melamun, Sang Ibu pun pergi meminjam uang ke sang nenek tiri, namun hanya Rp 150.000 saja. Ibunya pun tak kehabisan akal, Ia menjual beras untuk  mencukupinya dan akhirnya ia pun bisa menebus ijazahnya. 

   Setelah tamat dari SMP, kembali ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk memasuki jenjang SMA itu biayanya jauh lebih mahal. Ditambah lagi ia harus melewati kakaknya yang selalu memandangnya sisnis. Bahkan ketika ia mengutarakan niatnya untuk melanjutkan studinya ke SMA sang kakak malah berkata kotor dan kasar kepadanya. Sungguh kalimat yang keluar dari mulut sang kakak sangat melukai hatinya dan menghantuinya akan tidak adanya dukungan dari sang keluarga. Ia pun tertunduk dan menitikkan air mata, selama ini hanya ibunyalah yang harus selalu berkorban dan setia membersamai Kahar dalam mengarungi dunia sekolah yang serba rumit. 

   Hampir saja Kahar putus asa dan memutuskan pergi merantau ke Tarakan bersama sang paman untuk menjadi nelayan disana. Tapi sang ibu melarangnya dan terus memberinya motivasi untuk tetap bersekolah di jenjang yang lebih tinggi, karena sang ibu tidak ingin Kahar bernasib sama dengan kakak-kakaknya yang lain. 

Mimpi Itu Menjadi Nyata 

   Harapan itupun mulai nampak tatkala ia selesai menyelesaikan Ujian Nasional. Meskipun tak lagi belajar, ia tetap rajin ke sekolah dan membantu guru-gurunya di sana atau ikut membersihkan sekolah. Saat itu, baru saja ia selesai membantu guru olahranya memperbaiki net voli yang rusak. Sang guru pun bertanya. 

   “Kahar, mau lanjut SMA dimana?” Ia hanya menjawab bahwa ia tidak akan bersekolah lagi, melainkan ikut pergi ke Tarakan bersama sang kakak. 

   Sang guru pun lantas menyayangkan apa yang dikatakan oleh Kahar dan memberinya informasi mengenai sekolah berasrama yang di tahun itu membuka pendaftaran siswa baru untuk angkatan pertama. Namun ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin, sekolah negeri yang tidak berasrama saja sudah mahal apalagi sekolah swasta dengan sistem boarding. Sang guru pun menjelaskan bahwa sekolah itu milik Pak Jusuf Kalla dan memberikan beasiswa full selam 3 tahun. Hingga iapun berpikir untuk menanyakan hal tersebut terlebih dahulu kepada sang Ibu. Namun, sang ibu menyerahkan sepenuhnya kepada sang anak. 

   Rangkaian pendaftaran pun ia lalui untuk masuk ke SMA Islam Athirah Boarding School Bone. Mulai dari kertas formulir yang dibagikan oleh sang guru. Setelah itu, ia pun dipanggil untuk tes tertulis di Dealer Toyota Cabang Bone, namun ia terlambat karena tidak memiliki kendaraan dan harus menunggu sang guru olahraga sampai selesai mengajar. Benar saja, setelah sampai disana satu dari tiga mata pelajaran telah selesai. Tapi pengawas tetap memberinya kesempatan dengan syarat waktu tetap berjalan dari dimulainya tes. Setelah kurang dari 2 jam, ia berhasil menjawab soal tesnya. 

   Tes wawancara menjadi tes selanjutnya, selang beberapa hari setelah tes akademik di Toyota. Ia kembali harus ikut tes wawancara yang berlokasi di Jalan Sungai Musi Km.4 , Kelurahan Panyula tersebut. Disana ia dites oleh Ibu Sumarni Bekka dan Pak Saharuddin. Soalnya terbilang mudah karena hanya menyakan masalah kondisi ekonomi dan keluarga serta beberapa pertanyaan untuk cita-citanya ke depan. 

   Beberapa bulan kemudian setelah tes wawancara, datanglah pria bertubuh tinggi bermotor merah jenis F1 ZR. Pria tersebut mencari rumah ayah Kahar dengan tujuan untuk mensurvey apakah Kahar layak diberikan beasiswa atau tidak. Setelah lama berbincang, Pria yang bernama Syamsul Bahri tersebut memberi tahu bahwa pengumuman lulus akan disampaikan melalui SMS. 

   Akhirnya kahar menerima pesan bahwa ia resmi diterima menjadi siswa SMA Islam Athirah Boarding School Bone serta mendapatkan besiswa full selama 3 tahun. 

Menggapai Mimpi di Athirah 

   Menjadi angkatan pertama di sekolah adalah hal yang tak biasa baginya. Asrama megah yang digambarkan oleh brosur menampakkan keironisan bahwa tempat yang akan ia tiduri terletak jauh dari gedung sekolah, itulah rumah ukir. Tempat penginapan sementara karena pembangunan asrama sedang berlangsung. Ditambah kenyataan bahwa hal-hal goib dan pengaruhnya terus merasuki mereka sehingga sering terjadi kesurupan massal disana. Tidak hanya itu, pikirannya yang kritis membuatnya hampir stress dan berani mempertanyakan arti dari salat itu apa.  

   Setelah dibimbing dan mentoring oleh guru-guru, ia pun akhirnya pulih dan kembali menjadi seorang Kahar yang sejati. Akan tetapi setelah hal ini terjadi, tak membatasinya untuk mengembangkan diri. Ia sempat menjadi seorang ketua OSIS dan berpengaruh di temanteman angkatannya. 

   Soal keaktifan di kelas ia pun menjadi juaranya. Ketika diskusi kelasnya saat itu berlangsung, laki-laki badan kekar ini akan senantiasa menjawab dan membuat teman-temanya hanya bisa melongo. Selain itu ia pun bergelut di ekstrakurikuler kebumian dan pernah meraih juara di bidang itu. Tak hanya di bidang itu saja, Ia juga mampu menyabet juara II lomba debat bahasa Inggris. Dan banyak prestasi lainnya yang ia dapatkan. 

   Sampai pada akhirnya, ia telah duduk di Kelas XII IPS Al-Hadi. Ketika prosesi penamatan berlangsung, ternyata namanya terpilih sebagai alumni terbaik di SMA Islam Athirah, disusul oleh temannya Ikhwan dan Zulfikar. Ia pun tersadar bahwa Athirahlah yang telah mengubah hidupnya. 

   Sang Ayah yang awalnya mencegah untuk bersekolah kini telah terbuka dan mendukungnya. Satu hal yang tidak pernah ia lupakan bahwa kita boleh mengingingkan ini dan itu, mau menjadi seperti ini dan itu, tapi semua Allahlah yang menentukannya. Teruslah bersyukur apa yang kita punya hari ini dan berhentilah mengeluh atas apa yang belum kita miliki. Meskipun seolah perjalanan hidup mengatakan “kamu yang orang susah tidak usah sekolah”. Karena kini perlahan tapi pasti, ia dapat menarik pesan dari segala kepahitan hidup yang membuatnya mengambil makna bahwa Allah memberikan ujian kepadanya untuk membuat ia menjadi lebih kuat. 

Imbalan yang Setimpal 

   Kahar duduk di kursi pesawat dengan nyaman dan terbang menuju Jakarta Bersama Pak Edi Sutarto yang kala itu menjabat sebgai Direktur Sekolah Islam Athirah untuk menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Turki. Beasiswa Berkuliah di salah satu universitas terbaik Turki di Istanbul, Selcuk Univesity. Ia merasa ini akan menjadi langkah yang semakin membuatnya dekat dengan citacitanya menjadi seorang diplomat. 

   Setelah tiba di sana, takjub hatinya melihat keindahan Kota Istanbul, bersama hangatnya senyum  masyarakat Turki. Ia pun mengikuti arahan-arahan berikutnya dari YTB selaku pemberi beasiswa kepada siswa Indonesia. Mendapatkan asrama, menuju Universitas dan menentukan jurusan yang ia akan lakoni selama empat tahun kedepan, itulah jurusan sosiologi. Namun sebelum semua itu ia lalui, pria yang hobi berolahraga ini harus melewati masa persiapan bahasa Turki (TOMER) terlebih dahulu selama satu tahun. 

   Rasa syukur tak terbatas sampai di situ, lingkungan yang sangat jelas beda dengan Indonesia, dimana Turki terlihat cukup bersih membuatnya makin betah berada di negeri dua benua itu. Butiran-butiran salju yang turun dari langit pertama kali ia saksikan. Betapa terharunya dia. Hal yang paling membuatnya bahagia yang takkan pernah ia lupakan. Namun tak semua berjalan semulus itu, ada pula kendala paling sulit ia rasakan di sana, yakni beradaptasi dengan lingkungan dan budaya setempat. Perbedaan letak geografis yang miris perbedaannya antara Indonesia dan Turki juga mempengaruhi jenis kebudayaan yang diterapkan, mulai dari pola makan hingga pola kebudayaan berpakaian. 

   Meskipun hal itu pelik baginya, namun tidak menghalanginya untuk tetap berprestasi, seperti mendapatkan beasiswa Erasmus dari Uni Eropa untuk student exchange di Polandia selama 6 bulan. Di dalam program ini ia kemudian menyabet prestasi sebagai olahragawan terbaik di sana. Tidak Hanya di bidang itu, Kahar pun turut berperan aktif dalam kegiatan keorganisasian, yakni menjadi anggota KPU PPI Turki periode 2017-2018 dan menjadi Majelis Permusyawaratan Anggota PPI Turki, komisi 5 (Perundang-undangan). Tapi hal ini tak membuatya puas, ia memiliki target untuk kembali melanjutkan Magisternya di sana. 

   Hanya saja untuk sementara ini, setelah meluluskan pendidikan S1nya di Selcuk University dengan gelar B.A (Bachelor), ia lalu merangkap sebagai guru les bahasa Inggris yang jam kerjanya berkisar dari pukul 09.00 hingga pukul 17.00 waktu Turki. Ia bekerja di tiga tempat sekaligus yakni, Language Master, British Culture, dan Gevher Nesibe dan Medicine High School. Hal ini dilakukan untuk menambah tabungannya. Selama keberadaannya di sana, ia telah mengunjungi beberapa negara seperti, Jerman, Polandia, Austria, Saudi Arabia, Slovakia, Czech Republic dan Singapura. 

   Adapula yang aneh tapi nyata darinya yang tak akan disangka jika baru pertama kali berjumpa dengannya. Meski saat ini ia terlihat sangat garang dengan badan kekar, ternyata ia suka dengan hewan yang paling dicintai pula oleh rasul kita yakni kucing. Dibuktikan ketika ia memasang foto profil di WAnya dengan gambar kucing, selain itu iapun senantiasa memposting foto-foto kucing di IG dan FBnya. Adapula ciri lain yang menjadi atribut bagi dirinya, yakni suka jalan jalan sendiri, dengerin lagu pakai headset kencang, siapa lagi mah kalo bukan cowok yang besar dan asli Bone, Sulawesi Selatan ini pinter banget temen-temen. Terbukti dia punya 40 lebih piagam penghargaan kejuaraan dan olimpiade baik tingkat kota dan provinsi 

   Di balik teduh matanya tersimpan sebuah harapan untuk tanah air. Ia berharap agar Indonesia dapat memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliknya agar menuju negara maju kelak. Terlebih bagi sebuah gerbangnya menuju titik balik hidup, Athirah Bone, pria yang berusia 25 tahun ini menitipkan pesan, bahwa 38 Ensiklopedi Prestasi seriuslah dalam menjalani idup yang telah ditakdirkan dan manfaatkanlah Athirah Bone sebagai jalan tuk menuju kesuksesan.

Belum ada Komentar untuk "Artikel prestasi, Kahar Ali : Kiprah Alumni di Ranah Dua Benua"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel