Shopee x Realme

Cerpen Kesaktian Batu Sang Pemimpin Oleh Eka Yuliarti


Kesaktian Batu Sang Pemimpin
Karya Eka Yuliarti

 
  Riuh warga Desa Tolak Bala menggema, ingin mengetahui kandidat terpilih yang akan naik takhta menjadi raja Desa Tolak Bala ini, pasalnya warga sudah menantikan pesta besar untuk memeriahkan terpilihnya sang kepala desa.

    “Saya kira sulit memilih kandidat yang tepat, karena hampir semuanya memperlihatkan bukti kesaktian batu tersebut. Namun, ada satu kandidat yang tidak menunjukkan keajaiban apa pun ketika batu tersebut ada padanya, seolah-olah ia memang bukan orang yang tepat.”

    Desa Tolak Bala adalah desa yang subur tempat panen hasil bumi yang meruah, sawah terbentang sepanjang mata memandang, banyak budidaya empang, banyak peternakan, hasil cocok tanam banyak yang subur, segala rempah, dan beras melimpah, serta berkehidupan makmur sentosa. Orang-orangnya ramah-tamah, berbudi luhur, dan sederhana. Bisa jadi kepala desa yang akan terpilih nanti dicanangkan akan diberi sebagian budidaya empang, peternakan, bahkan berbidang-bidang sawah.

   Para kandidat kepala desa segera dikumpulkan oleh panitia pukul 9 pagi di pos terpadu desa. Di depan sekian banyak warga Desa Tolak Bala, 4 kandidat duduk dengan memperlihatkan mimiknya masing-masing. Pak Danang dengan senyum bangganya, Pak Jujur yang tak berhenti senyum malu-malu, Bu Susi yang datar, dan Pak Sardi dengan wajah seperti ingin menerkam, membuat warga hilang selera kala melihatnya. 

   Dimulailah acara yang telah bertahun-tahun biasa dilakukan warga untuk memilih calon kepala desa, acara berpidato. Kandidat diwajibkan berpidato di depan warga untuk mengemukakan visi, misi, dan janjinya dengan batasan waktu pidato maksimal 30 menit. Selain itu, para kandidat juga diharuskan memberikan hiburan setelah pidato usai. Ini bagian terpenting, tertulis dalam lembaran panitia, dengan tinta merah. Tak ingin membuang waktu, karena warga sudah gusar, panitia penyelenggara pun segera membuka acara dengan pidato singkat, kemudian mempersilahkan pidato pertama yang akan diisi oleh Pak Jujur. 

   Pak Jujur kemudian berdiri dan memulai pidatonya, namun sekonyong-konyongnya datang seorang pria berusia 30-an yang langsung mengambil alih mic dari Pak Jujur. Pria tersebut adalah Pak Surya. Ia berperawakan tinggi dan berbadan tegap, memakai pakaian yang dimasukkan ke dalam celana, dengan memperlihatkan ikat pinggangnya, tas cokelat selempang yang keseluruhan tampak seperti pegawai negeri kata sebagian orang. Kumis dan jambangnya yang khas, hidung mancung, bentuk wajah mirip orang Pakistan, tampan menawan. Warga seketika terhanyut dan memandang pemandangan yang jarang-jarang ini.

    “Halooo ... tes ... tes ... yang di belakang masih bisa dengar suara saya? Oke, saya lanjut. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, selamat pagi semua. 
Sebelumnya saya mohon maaf kepada ibu-bapak sekalian atas gangguannya tadi. Jadi, saya berdiri di sini selaku ketua panitia pemilihan memohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan saya, karena ada urusan penting mendadak yang harus diselesaikan. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada kandidat yang sudah hadir di tengah-tengah kita, panitia yang telah mengatur jalannya acara, dan warga Desa Tolak Bala yang meluangkan waktunya untuk menyempatkan hadir dalam acara ini. Saya berpikir bahwa ajang mengenal para kandidat sebaiknya tidak mesti dilakukan dengan cara berpidato.”

    Warga kebingungan dan kembali riuh karena acara pidato adalah hal yang biasa mereka adakan ketika masa pemilihan calon kepala desa yang baru. Warga tidak terpikirkan untuk mengganti acara tersebut. Dalam kerumunan warga, terlihat lelaki paruh baya yang tampak masam mendengar hal tersebut, kemudian ia menyela dengan suaranya dengan lantang.

    “Maaf Mas Surya, yang benar saja mengganti acara pidato ini! Selama ini warga telah menjalankan acara pidato itu turuntemurun, warga di sini juga sudah merasa klop dengan acara itu, ya sudahlah jangan dipersulit, aku takut nanti acara berantakan dan kita malah tidak punya pemimpin desa. Kalau mau diganti, lalu dengan cara apa?” tegas Pak Karto meragukan Pak Surya.

    “Betul itu pak, saya setuju,” ujar Bu Marni, salah seorang warga menimpali.
   Mendengar perkataan tersebut, Pak Surya kemudian tersenyum sembari mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya dan diperlihatkanlah barang itu di hadapan seluruh orang yang hadir. Sebuah kotak hitam sederhana, kira-kira sebesar genggaman orang dewasa. Warga terpaku dan hening. Pak Surya membuka kotak tersebut, tampaklah seonggok batu lonjong bertekstur halus berwarna abu-abu, kebiruan.

    “Ini adalah sebuah batu yang di dalamnya tersimpan kekuatan yang luar biasa. Tampilannya memang seperti ini, tetapi sungguh batu ini dapat mengungkapkan hal yang tak terduga. Saya telah mencobanya kesekian kali dalam pemilihan pemimpin apa pun, dan sudah terbukti kesaktiannya. Kesaktian batu ini hanya akan terlihat jika digunakan oleh pemimpin desa yang tepat. Batu ini akan saya berikan kepada para calon kepala desa dan akan mereka simpan secara bergilir.”

   “Selanjutnya, mari kita lihat siapa di antara mereka ini yang mampu memancing kekuatan luar biasa dari batu tersebut,” ujar Pak Surya dengan senyum mantapnya.

   Para kandidat yang dari tadi mendengarkan Pak Surya, terlihat berpikir keras, mereka sama-sama mengernyitkan dahi.

   Keheningan warga kemudian berubah menjadi sorak sorai yang menggembirakan. Warga Desa Tolak Bala yang hadir percaya akan kesaktian batu tersebut dan segera menyebarkannya kepada warga lain. Kesaktian batu ini kemudian tersiar ke seluruh penjuru desa, termasuk para sapi.

***

   Kehadiran Pak Karto ke rumah Pak Danang disambut oleh pemilik rumah dengan wajah gempal dan rambut yang baru saja disemir. Rumah yang dibangun tidak memiliki tetangga ini tampak sedikit hidup ketika ada yang mengunjungi. Berlokasi di depan tempat peternakan ayam miliknya, rumah seluas lapangan tenis ini adalah saksi bisu kesuksesan pengusaha ayam ini.
   
 “Sudah kau siapkan apa yang kuminta, kan?”

 “Beres semua itu, pak, sudah saya siapkan semuanya. Saya jamin warga bakal percaya dan akan memilih bapak.”

    “Bagus, Itulah yang saya inginkan. Buat saya terlihat seperti Multatuli versi baik.”

    “Beres, pak! Omong-omong saya boleh minta kopi, pak?”

   Pak Danang kemudian memanggil pembantunya dan memintanya menyuguhkan 2 gelas kopi beserta 2 piring kulit ayam goreng. Pagi ini terlihat cerah membiru, dikelilingi pepohonan yang tinggi, udara yang terhirup membuat segar, di tengah pedesaan yang sedang musim pemilihan kepala desa.

***

   Dikenal ramah oleh para warga, begitulah citra Pak Jujur di hadapan para warga desa. Hampir-hampir setiap Pak Jujur berpapasan atau sekedar melewati warga, selalu ada yang menyapanya, seolah tiada yang bisa menolak keinginan untuk menyapa Pak Jujur, termasuk anak-anak kecil dan segerombol domba di lapangan. Peci merah bata adalah ciri khasnya, kemeja lengan panjang melipis, dan senyum malu-malu yang selalu dibawanya.

    “Selamat pagi. Assalamuaalikum, pak kades,” sapa Pak Surya ketika berpapasan dengannya.

    “Waalaikumsalam, selamat pagi, saya kan sudah tidak jadi pak kades lagi, pak, kok sampeyan masih panggil saya begitu, saya jadi enggak enak.”

    “Oh iya pak maaf, saya merasa bapak masih cocok jadi kades sih, pak, lagi pula 
sewaktu bapak masih menjabat jadi kades, saya kan sudah biasa menyapa bapak dengan panggilan kades, pak.”

    “Ya sudah jika sampeyan berpikir begitu, saya heran, sampeyan kan baru tinggal di desa ini akhir-akhir masa saya jadi kades, kan? Berarti sekitar 5 bulan yang lalu, toh? Tapi, sudah akrab sekali dengan warga ya, sampai-sampai dipercaya jadi ketua panitia pemilihan. Weleh-weleh sampeyan ini benar-benar bejo!  Jangan lupa sampeyan dukung saya jadi kades lagi ya, supaya desa ini semakin maju.”

    “Wah, siap pak, bapak baik, sih, pasti saya dukung.”

    “Ya sudah, saya permisi dulu mau menjenguk warga desa sebelah yang sakit, Assalamualaikum.”

    “Waalaikumsalam.”

    “Wah, benar-benar pemimpin,” gumam Pak Surya yang terdengar oleh Pak Jujur.
    Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya Pak Jujur disapa dan diperlakukan ramah oleh para warga. Setapak demi setapak dalam keramahan warga ia lewati, ketika di penghujung perbatasan desa, sembari menghirup bersihnya udara pagi, Pak Jujur tersenyum lebar, hingga tampaklah giginya yang putih, dengan kerutan di sekitar mata di wajahnya yang memerah.

***

   Pagi-pagi buta para warga dihebohkan oleh kejadian tidak terduga. Pasalnya, di lapangan rumput besar tempat warga biasa berkumpul terdapat sebuah gundukan raksasa yang berisi sembako beserta telur ayam. Para warga pun segera menghampiri gundukan tersebut dan berniat mengambilnya.

    “Wah-wah, saya terkejut! Apa ini? Banyak sekali, tidak habis pikir, ini seperti berkah! Saya curiga jangan-jangan ini bukti kekuatan batu sakti itu!” kata Pak Karto sumringah.

   “Eh iya betul, pak, mungkin. Memangnya batu itu sedang dipegang oleh siapa, pak?” tanya Bu Marni penasaran.

    “Setahu saya sih, bapak, ibu, batu itu masih ada di Pak Danang.”

   Warga menggangguk dan saling bertatapan. Dari kejauhan Pak Surya mengamati dan tersenyum. Di sebelah Pak Surya terlihat Bu Susi yang juga mengamati sambil tersenyum sinis. Tidak jauh dari tempat Bu Susi dan Pak Surya, tampak Pak Sardi dan Pak Jujur yang memperhatikan kejadian tersebut dari tepi lapangan, yang berdekatan dengan jalan.

    “Oooh begitu, jadi pak, sekarang, boleh diambil, kan, berkah ini?” kata Bu Marni kemudian. “Wah, tentu, bu,” ujar Pak Karto.

   Warga pun segera mengambil berkah tersebut dan beberapa saat kemudian, ludes tinggal sisa-sisa butiran beras dan telur-telur yang pecah. Sembako tersebut dibagikan untuk warga Desa Tolak Bala yang membutuhkan, sembari menyiarkan kabar kesaktian batu yang tengah dipegang oleh Pak Danang.

***  

   Sudah hampir sejam Bu Susi mondar-mandir di kamarnya untuk memilih baju yang akan dia kenakan. Akhirnya pilihan jatuh pada gaun polos panjang berwarna hitam kebiruan mengikuti bentuk tubuhnya yang langsing. Dilengkapi kerudung hitam bercorak bunga putih yang menyisakan rambut di dahinya, Tidak lupa Bu Susi memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala. Ia tampak seperti wanita berusia 30 tahun, padahal umurnya menjelang 45.

   Bu Susi telah hadir dalam acara pengajian ibu-ibu yang biasa diadakan setiap minggu, selepas asar. Kini giliran rumah Bu Marni yang jadi tempat berkumpul pengajian itu. Bu Susi memberi salam dan senyum yang merekah. Begitu anggunnya, menjadi perbincangan ibu-ibu pengajian yang hadir akan kekaguman tampilan awet mudanya.

    Ketika pengajian dimulai, Bu Susi tiba-tiba menjerit, jeritannya terdengar sampai ke luar, tetangga Bu Marni berdatangan. Kemudian ia duduk diam dan menunduk. Digenggamnya erat batu itu, dan diacungkannya tinggi batu itu oleh tangannya, sembari melontarkan kata-kata bahwa ia dirasuki oleh jin dari batu tersebut. ibu-ibu yang hadir pada saat itu sontak menghindar hingga ke sudut ruang tamu Bu Marni.

   “Saya sarankan kalian warga Desa Tolak Bala memilih Bu Susi sebagai kepala desa, karena dia orang baik dan dapat diandalkan. Jika tidak, maka Desa Tolak Bala ini akan dikutuk dan hancur,” kata Bu Susi dengan suaranya yang serak dan berat.

    Masih dalam keadaan kerasukan, Bu Susi yang semula duduk, tiba-tiba kejang-kejang lalu jatuh pingsan dalam posisi tidur. Setelah itu, ibu-ibu segera membangunkannya dan mendapati Bu Susi telah sadar dari kerasukannya. Akhirnya tersiar kabar bahwa batu tersebut menampakkan kesaktiannya pada Bu Susi.

***

 “Pak Sardi, gimana, tuh, dengan batunya?” sang ibu warung bertanya penasaran, sambil melihat ke arah Pak Sardi yang tengah menenggak kopinya.

    Sesudah kopinya ditenggak, ia langsung membayar dan melihat ke arah si ibu warung dengan wajahnya yang garang tanpa senyum. Setelah membayar, ia cepat-cepat meninggalkan warung berbelok ke persimpangan kanan jalan dan menghilang dalam rimbunan pohon di sisi jalan. Orang-orang yang berlalu lalang memperhatikannya dan enggan menegur. Kemudian datanglah Bu Marni menghampiri warungnya.

   “Oalah, ya pantas enggak disapa, wong dia menatap saja sudah seram, apalagi bicara?” ibu warung mulai membuka pembicaraan dengan Bu Marni.

    “Iya bu, benar, saya takut sekali sama wajahnya. Apalagi tatapannya itu, lho. Gelagatnya itu mencurigakan, seperti bandar narkoba atau apalah itu! Sebenarnya saya sih kepengin menegur, Tapi ya ogah kalau dia enggak senyum,” ujar Bu Marni.

    “Oh ya, Bu Marni, sudah dengar kabar belum?”

   “Kabar apa?” kata Bu Marni sembari memilih gorengan yang tersedia di meja depan warung.

   “Ini soal Pak Jujur, Bu Marni, Dengar-dengar dari warga tadi pagi, katanya dia bisa melayang semenjak memegang batu itu bu! Dia melayang di depan rumahnya bu, lalu dilihat oleh orang yang lewat.”

    “Kalau begitu jangan-jangan dia yang terpilih oleh batu itu.”

    “Iya, saya sih, setuju saja, Bu Marni, wong pak Jujur ramah dan enggak bikin seram seperti Pak Sardi.”

    “Ibu, pisang gorengnya itu.”

    “Oh iya, betul, aduh,” cepet-cepat ibu warung menangani pisangnya yang hampir gosong.

    “Saya beli pisang gorengnya juga ya bu, 5 biji.”

    “Iya bu, siap.”


***

   Di sudut lorong ruangan yang gelap, ditemani cahaya lampu temaram, beberapa orang bermantel hitam sedang mengadakan diskusi rahasia. Pin mengkilat bertuliskan agen pemilihan tampak berada pada setiap mantel orang-orang tersebut. Malam semakin larut dan dingin, mereka mulai melaporkan perkembangan dari tiap daerah yang mereka tangani.

    “Saya telah menjalankan misi saya, mereka benar-benar tikus,” lapor salah seorang agen.

   “Saya juga sudah mengawasi desa dari awal, dan ternyata mereka masuk perangkap. Namun, saya kesulitan menangani satu orang, dan besok adalah hari pemilihan kepala desa,” lapor salah seorang di antara mereka yang berwajah Pakistan, sembari mencopot kumis palsunya.

   “Siapa?”
    ...

   Tibalah hari pemilihan kepala Desa Tolak Bala. Lapangan tempat warga berkumpul mulai dihadiri warga dan beberapa pedagang yang ingin menjajakan dagangannya. Riuh warga Desa Tolak Bala menggema, ingin mengetahui kandidat terpilih yang akan naik takhta menjadi raja Desa Tolak Bala ini, pasalnya warga sudah menantikan pesta besar untuk memeriahkan terpilihnya sang kepala desa. Acara pun dibuka. Empat kandidat duduk di kursi yang disediakan di atas panggung dengan wajah harapharap cemas.

    “Saya kira sulit memilih kandidat yang tepat, karena hampir semunya memperlihatkan bukti kesaktian batu tersebut. Namun, ada satu kandidat yang tidak menunjukkan keajaiban apa pun ketika batu tersebut ada padanya, seolah-olah ia memang bukan orang yang tepat. Saya jadi penasaran dengan jawaban Pak Sardi, Bagaimana pendapatnya ketika batu tersebut seharian tampak seperti batu biasa dan tidak menunjukkan kesaktian padanya?”  

   “Saya tidak berpikir batu tersebut benar-benar sakti. Saya kira itu hanya batu sungai biasa,” ia menanggapinya dengan tatapan garang seperti biasa.

    “Seperti itukah? Benar, hanya para penipu yang mampu menghadirkan kesaktian pada sebuah batu sungai biasa,” ujar Pak Surya, ketua panitia penyelenggara pemilihan kepala Desa Tolak Bala. 


    Bandung, 20 Februari 2018  

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Kesaktian Batu Sang Pemimpin Oleh Eka Yuliarti"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel