Cerpen Guns and Roses Oleh Natasya Habibah



Guns and Roses
Karya Natasya Habibah

“ Tidak! Cepat menjauh dari sana, brengsek!”

   Fred menoleh ke arah teriakan itu, dan sebelum sempat memproses semuanya, sinar terang dan dentuman yang keras berhasil menghempaskan tubuhnya dengan mudah sejauh beberapa meter. Kemudian yang tersisa oleh ingatannya hanyalah kesunyian yang memekakkan. Gelap.
***
Some folks inherit star spangled eyes
Ooh, they send you down to war, Lord
Creedence Clearwater Revival, Fortunate Son
 

  Suara raungan roda tank membangunkan jiwanya dari alam bawah sadar. Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah kain terpal yang tampak gelap menaungi dirinya. Beberapa detik kemudian disadarinya bahwa tubuhnya berbaring telentang di atas kain tandu yang tergeletak di tanah berlumpur. Sialan. Dia mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

  “Whoa, tenang saja, Bung. Kau sudah pingsan hampir seharian.”

  Sebuah tangan milik seorang serdadu berseragam hijau tua menahan tubuhnya untuk kembali berbaring di kain tandu yang kasar. Dilihatnya seragam tersebut tampak kumal oleh bekas lumpur dan percikan darah yang mengering. Sebuah emblem putih dengan tanda plus merah membalut lengan kirinya.

  “Apa yang terjadi?” tanyanya. Kepalanya masih terasa pening.

  “Ada bom meledak di dekatmu. Kau beruntung tidak terlalu dekat. George dan Phil, sayangnya, mereka tidak selamat,” dia berkata datar sembari menawarkan segelas air yang segera ditenggak Fred dengan rakusnya.

   “Beberapa langkah lebih dekat saja mungkin jasadmu sekarang akan terbujur di sana.” Serdadu tersebut menoleh dengan mata menerawang ke arah luar tenda. “Bersyukurlah, kau bahkan tidak terkena luka serius apa pun, hanya beberapa luka di badan dan mungkin lebam di kepalamu akan terasa sakit sampai berhari-hari,” lanjutnya.

   Fred meraba rambutnya dan dirasakannya benjolan besar di balik tempurung kelapanya. Oh ya, dia yakin itu akan sakit.

  “Dia menyelamatkanmu, kau tahu. Kabarnya, seorang Vietkong hampir menghunuskan ujung bayonetnya ke tubuhmu yang tak sadar sebelum Ross menghancurkan tengkorak bajingan itu dengan senapannya. Ross menggila, entah sudah berapa banyak bedebah macam mereka yang mati di tangannya.”

  “Ross? Siapa Ross? ”

   “Kau serius?” tanyanya dengan heran. Serdadu itu menganggap Fred bercanda. Namun, setelah melihat tatapan pasiennya yang penuh tanya, dia meneruskan, “Namanya Adam Ross, panggil saja Ross karena terlalu banyak nama Adam di sini. Dia sudah setahun berperang di Vietnam, semua orang mengenalnya kecuali kau. Berapa lama kau ditugaskan di tempat ini?”

   “Aku baru saja dipindahkan ke lokasi ini seminggu yang lalu setelah hampir 6 bulan di Saigon,” ujar Fred lelah. Dia menatap kosong ke kain tandu di sampingnya. Seorang serdadu tergeletak tidak bergerak, entah sudah mati atau tidak, Fred tidak ingin memastikan. Antara yang hidup dan yang mati lagipula sama saja baginya, tanpa jiwa

   18 November 1965.

   Hari itu akhir dari pertempuran 4 hari di lembah Ia Drang. Dan Fred baru ingat bahwa hari ini dia resmi menginjak 20 tahun.

***

   Pria itu menyisir rambutnya yang berwarna cokelat pasir dan kemudian keluar dari tendanya yang kumuh menuju padang terbuka di mana beberapa serdadu terlihat duduk mengitari api unggun kecil. Dia duduk menyendiri di dekat api yang masih samar-samar berkobar. Diraihnya kaleng ransumnya dengan sebongkah ranting dan mengeluarkannya dari tumpukan kayu yang telah menghitam terkena api. Tidak ada yang mengajaknya berbicara. Dia berfokus untuk hal yang lebih penting, membuka paksa tutup kaleng itu dengan pisau lipat miliknya. Baru sejenak dia menyantap makan malam sembari menulis catatan di buku saku miliknya yang bersampul kulit kecokelatan, dan tiba-tiba seorang anak muda berjalan mendekat.

   “Kau Adam Ross? Nama saya Frederico Johnson, panggil saja saya Fred.”

   Dari suaranya yang terdengar seperti belum lama pecah, anak ini tidak mungkin lebih tua dari dari adiknya, Sam, yang tewas di Van Tuong.

   Dia mendongak dan benar saja, anak-anak. “Apa maumu,
kid?”

   “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku. Seorang paramedis bilang kau membunuh seorang Vietkong yang ingin menusukku di saat aku pingsan karena ledakan bom, dan kau sendiri membawaku di atas pundakmu dan menaruhku di tempat aman. Untuk itu aku sangat berterima kasih, Sir. Aku berhutang nyawa kepadamu.” Anak itu menatapnya kagum dan Ross segera mengingat kejadian kemarin

   “Kid, apakah kau tuli? Aku kemarin meneriakimu dan kedua temanmu untuk menjauh dari daerah itu berkali-kali, Vietkong memasangi tempat itu dengan ranjau. Kau dan kedua teman bodohmu dengan tololnya melangkah ke jebakan mereka. Aku tak tahu masalahmu tapi kalau kau punya keinginan bunuh diri, kau datang ke tempat yang tepat!” ujarnya dengan nada tinggi.

   Dilihatnya ketakutan terbaca dari raut wajah anak itu dan Ross sedikit menyesal dia telah bersikap keras. Tapi, perang selalu keras dan penuh darah, tidak ada gunanya untuk bersikap lembut. Setidaknya bukan di sini, di tempat ini

   “Maafkan aku, Sir. Aku bahkan tidak terlalu mengenal kedua temanku yang telah tewas. Saat itu, aku berpikir kalau aku harus mengikuti mereka dan berusaha tidak mengacau. Aku baru bertugas selama 6 bulan di sini, dan yang kutahu hanyalah menekan pelatuk dan musuhmu mati. Tapi, aku bahkan belum membunuh satu Vietkong pun sampai saat ini dan tiba-tiba mereka memerintahkan peletonku untuk bergabung di Ia Drang karena mereka kekurangan orang. Ini perang besar pertamaku dan yang kulakukan hanyalah pingsan dan merepotkan kau. Aku berjanji tidak akan ceroboh dan menjadi beban lagi, Sir.” Anak itu menjawab dengan kepala tertunduk, melihat sepatunya berpijak pada tanah yang terkotori oleh abu api unggun.

   Ross melihat anak itu sekali lagi dan dia teringat dengan adiknya. Betapa miripnya anak ini dengan Sam. Postur jangkung yang sama, rambut cokelat kemerahan yang sama, ketakutan dan kepolosan yang sama. Dirasakannya amarah dalam dirinya yang sedikit demi sedikit mencair.

   “Pertama, berhentilah memanggilku dengan sir. Aku merasa seperti para keparat yang memulai perang tidak masuk akal ini. Kedua, kau akan menemaniku dalam tugas-tugas berikutnya. Aku tidak suka membiarkan seorang anak Amerika mati begitu saja di tanah asing ini. Aku tidak ingin membayangkan ibumu menerima surat berita kematian anaknya. Dan yang terakhir, kau harus berjanji mematuhiku karena aku lebih baik darimu untuk urusan membunuh, dan juga karena aku lebih tua darimu. Mengerti?”

   “Aku mengerti, Ross.”

   “Baiklah. Beberapa hari lagi kau ikut denganku untuk menjaga perbatasan. Aku akan bicara dengan Kapten untuk memasukkanmu dalam timku.”

   Begitulah, percakapan singkat malam itu berakhir

   Sejak saat itu Ross dan Fred selalu bertugas bersama. Di hari ke-18 setelah pertemuan mereka, Fred berhasil membunuh Vietkong-nya yang pertama. Dan di akhir tahun, sedikitnya 7 nyawa telah mati di tangannya. Fred sadar dia bukan anak-anak lagi.
***

   Saat itu awal Maret 1968 di Khe Sanh, Ross sudah Fred anggap sebagai sahabatnya. Hatinya merasa berat ketika menerima kabar bahwa sahabatnya itu akan dipulangkan di akhir atau pertengahan tahun. Masih tersisa satu tahun lagi untuk dirinya di Vietnam. Dilihatnya Ross menulis sesuatu di buku sakunya seperti ritual yang selalu dia lakukan tiap malam.

   “Apa, sih, yang sebenarnya kau tulis? Untuk C kah?” Pertanyaan itu terlontar secara tiba-tiba dari mulutnya yang masih penuh dengan daging dari kaleng ransumnya.

   “Kau bilang apa?” tanya Ross kaget seakan selongsong peluru telah menyambarnya.

   “C. Aku pernah mendengarmu mengigau dan kau selalu menyebut namanya. Apakah dia kekasihmu?”

   “Jangan kau sebut-sebut dia di sini kid. Jangan di sini,” jawab Ross tegas dengan buncahan emosi yang tampak jelas tertahan.

   “Maafkan aku Ross, aku terlalu banyak bicara.”

   Melihat Fred yang langsung diam, akhirnya Ross menyerah dengan rahasianya. Lagi pula, Fred sudah bagai adiknya sendiri, dia selalu percaya pada adiknya.

   “Dia kekasihku,” ujar Ross memecah kesunyian di malam itu. Guratan pensil di kertas bukunya masih terdengar.

   Fred langsung berhenti dengan makan malamnya dan mulai memperhatikan pria yang duduk di seberangnya. Ross sama sekali irit bicara dan sangatlah sebuah keajaiban dia menceritakan hal pribadinya

   “Aku mencintainya, kid. Dia kuliah di Stanford dan belajar hukum. Bayangkan itu, orang sepertiku mendapatkan orang seperti dirinya. Aku ingat benar ketika kami bertengkar hebat setelah aku mengatakan kepadanya kalau aku mendaftar untuk perang ini. Kukira aku ke sini untuk membela tanah airku dan berperang dengan para tentara Vietnam, dan yang terjadi di sini ternyata aku mendaftar untuk membunuh para petani. Aku membuat C berjanji untuk tidak saling menyurati ketika aku di sini. Aku tidak tahan jika sedikit saja ada bagian dari C di peperangan ini akan membuatku lupa dengan perang, dan hanya menyisakan untukku keinginan untuk pulang. Karena itu setiap malam aku selalu menulis di buku ini untuk C, menceritakan apa saja yang telah terjadi padaku di sini karena aku yakin saat pulang nanti yang ingin kulakukan hanya hidup bersamanya dan membuang segala ingatan tentang tanah terkutuk ini. Dia bisa membacanya sendiri kalau dia mau.”

   Ross berhenti untuk meletakkan pensil serta bukunya dan memasukkannya lagi ke kantong seragam tentaranya lalu melanjutkan cerita

   “Aku harus merahasiakan hubungan kami berdua. Anggap saja hubungan kami ditentang dan aku pernah mendapat pukulan dari sekelompok bedebah. Aku nyaris pingsan jika saja tidak ada polisi yang lewat dan membuat mereka lari terbirit-birit. C itu spesial, aku rela saja dipukuli berkali-kali, itu sepadan. Kami berencana akan pindah ke Alabama setelah semua ini selesai. Setelah C menamatkan kuliahnya dan menjadi pengacara, kami berencana akan membeli rumah di sana. Ada rumah dijual di dekat pinggiran kota dan man, rumah itu akan menjadi tempat yang ideal bagi kami berdua. Ada pohon sycamore besar di samping rumah itu, aku menyukainya. Kurasa kami akan menemukan kedamaian di sana.” Ross mengakhiri ceritanya dan diam begitu saja

   “Wow bung, kau sangat mencintainya ya? Sangat sial aku belum mempunyai kekasih seperti kau. Sabarlah Ross, hanya sebentar lagi dan aku yakin C akan berada tepat di stasiun dan menjadi orang pertama yang melihatmu turun dari kereta.”

   Ross tersenyum tipis. “Aku hanya ingin semua ini berakhir, kid. Aku berharap perang tidak berguna ini akan selesai. Aku mendengar para mahasiswa berdemo di Amerika dan aku pun yakin C juga ikut dalam demonstrasi itu. Kurasakan hanya sebentar lagi perang ini akan tamat. Aku tidak takut kalau aku tidak akan mengenalinya ketika aku pulang nanti. Yang kutakutkan adalah dia yang tidak akan mengenaliku lagi.”

   “Tidak Ross, dia akan mengenalimu. Tenang saja.” Fred berusaha meyakinkan

   “Bung, aku tidak mengerti kenapa kau merahasiakan ini semua. Maksudku, bercerita tentang kekasihmu itu cerita yang menarik. Jadi, C ini kepanjangan dari apa? Cynthia, Clara, Christina?” lanjut Fred dengan nada mengejek.

   “Diam dan tidurlah. Aku tidak ingin kehabisan tenaga menjawab segudang pertanyaanmu,” dengusnya dan bersiap untuk tidur.

   Fred tertawa pelan dan bersiap tidur. Segera saja kantuk melahapnya.

   Dia tidak menyadari bahwa malam ini adalah yang terakhir dia bercakap-cakap santai dengan Ross, karena pada tanggal 7 April 1968, Adam Ross tertembak dan dinyatakan tewas.
***
And when you ask them, "How much should we give?"
Ooh, they only answer "More! More! More!" yoh
Creedence Clearwater Revival, Fortunate Son


   Fortunate Son dari CCR yang mengalun keras dari speaker bus membuatnya menggoyangkan kepala mengikuti hentakan irama lagu. Fred lalu membuka koran yang terletak di pangkuannya dan membaca headline berita hari itu. 

   “Amerika Serikat Mulai Menarik Pasukannya dari Vietnam”

   Dia meletakkan kembali koran itu dan menenggak air dari botolnya. Perjalanan jauh di bus yang panas ini membuatnya sangat kehausan. Bus itu akhirnya berhenti di sebuah halte kecil dan Fred pun melangkah turun dengan kaki kananya terlebih dahulu, dan akhirnya menurunkan kaki kiri palsunya. Ada jalan setapak panjang berdebu dan mengarah lurus menuju sebuah rumah bercat putih dengan pohon sycamore yang menjulang tinggi di samping halamannya.
   Setelah berjalan beberapa puluh meter, dia sampai ke beranda rumah itu dan mengetuk pintunya
   Seorang lelaki berkacamata dan berambut gelap membuka pintu. Mata birunya menyiratkan rasa tanya karena melihat orang asing yang berkunjung itu.

   “Permisi, nama saya Fred Johnson. Saya mencari orang yang bernama C. Saya sahabat dari Adam Ross dan kami satu batalion selama di Vietnam,” ucap Fred. Dikeluarkannya sebuah buku saku bersampul kulit berwarna cokelat dari tas ransel buluk miliknya.

   “Sebelum dia meninggal 5 tahun lalu, Ross menitipkan buku ini untuk saya berikan ke C. Dia menulis alamat rumah ini di bukunya. Dan baru sekarang aku bisa mengabulkan permintaannya karena bertahun-tahun aku menjalani operasi dan memulihkan kondisi jiwaku. Apakah dia ada di sini?” tanyanya.

   Fred tidak salah lagi melihat bahwa mata biru lelaki itu mulai berkaca-kaca. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menjabatnya dan berkata, “Namaku Christopher, tapi Ross lebih suka memanggilku C.”

   Tiba-tiba saja Fred teringat percakapannya dengan Ross malam itu.

   “Aku harus merahasiakan hubungan kami berdua. Anggap saja hubungan kami ditentang dan aku pernah mendapat pukulan dari sekelompok bedebah ....”

   “Bung, aku tidak mengerti kenapa kau merahasiakan ini semua.”

   Namun sekarang, Fred merasa dia mengerti

   Dilihatnya daun-daun pohon sycamore menari mengikuti tiupan lembut angin di siang itu, sebuah siang yang cerah di Alabama.



Belum ada Komentar untuk "Cerpen Guns and Roses Oleh Natasya Habibah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel