Cerpen Dua Sosok, Lima Indera Oleh Joanna Dian


Dua Sosok, Lima Indera
Karya Joanna Dian Oktavianie


    Napas lelaki itu memburu. Sosok lain dalam tubuhnya terbangun setelah tidur panjang. Sosok yang menyebut dirinya bernama Bisma. Maka itulah rupanya; yang matanya segera menyalang pada wajah yang berjarak dua meter di hadapannya. Muka yang serupa, hanya rambut-rambut tipis yang tumbuh pada dagu dan pipi belakangnya yang membedakan. Dengan jijik Bisma melihat rambut-rambut tipis tersebut. Dia Heri, saudara kembar identik dari pemilik asli tubuhnya.
   
   Yakin dirinya akan menang, tanpa ragu ia menerjang. Dia tangguh dan kuat, tidak seperti Heru, Si Kepribadian Utama. Dalam beberapa kali hantam, Heri sudah nyaris jatuh terkapar. Heri tertawa, lelaki psikopat itu masih bisa tertawa nyaring. Memperlihatkan gigi-giginya yang berdarah akibat serangan Bisma. Bisma geram dan terus menghajarnya tanpa banyak bicara. Mendesaknya ke dinding gunung. Tubrukannya cukup kuat hingga kerikil berjatuhan ke atas tubuh mereka, namun tidak dipedulikan.
    
   Leher Heri sudah berada dalam cengkeramannya ketika telinga mereka menangkap suara derap kaki berlarian mendekat. Awalnya samar. Lambat laun kian jelas. Lalu muncul tiga orang berseragam di antara gelapnya malam. Mereka berteriak dan meniupkan peluit panjang, bersahut-sahutan. Bisma Si Pemberontak, mana mau berurusan dengan hukum. Dia mendesis kesal. Cengkeramannya dari leher Heri, dia lepaskan. Segera, dua lelaki berupa serupa tersebut berlari memisahkan diri.

***

  “Kau sudah siap?” tanya Heri tenang. Nadanya mengejek, tapi yang ditanya tak merasa. Dia hanya mengangguk mantap. Lalu mereka bergerak merayap perlahan. Bersembunyi di balik tembok rumah yang berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah Si Calon Korban. Ini sasaran mereka yang keempat, yang terakhir. Kalau mereka gagal, korban satu, dua, dan tiga bisa ikut bicara, meski sudah tak bernyawa.

   “Saya tidak akan gagal ....” katanya seraya memperhatikan calon korban yang sudah masuk rumahnya dalam kondisi setengah mabuk. Lalu menengok, “Habis ini, kalian bersiaplah! Giliranmu dan Heru segera tiba.” Kali ini terdengar seperti gertakan, namun tetap diakhiri dengan senyumannya yang khas. Seutas senyum palsu yang ditariknya begitu lebar. Hingga membentuk garis-garis senyum yang dalam. Dia selalu berusaha terlihat ramah. Entah supaya apa.

    “Adikku yang malang. Kenapa juga harus berbagi tubuh dengan seorang bujang yang harus kusingkirkan?” gerutunya kepada diri sendiri.

   Heri terdengar sedih, tapi itu tidak mungkin benar. Bisma sangat mengenal Heri, dia tidak mungkin berubah. Ingatan Heru tentang keburukan saudara kembarnya itu tersimpan rapi dalam memori Bisma. Sejak awal kemunculannya, Bisma selalu mencari cara untuk menantang Heri. Ia selalu menanti-nantikan saat itu. Waktu di mana dia bisa membalaskan perbuatannya terhadap Heru. Beberapa hari yang lalu, dibuatnya sebuah keputusan yang penuh resiko. Dia menghubungi Heri dengan dalih meminta bantuan. Bisma beralasan ingin membuat perhitungan terhadap teman-teman judi yang telah menjebak Heru.

    “Oi, Bujang! Ada apa lagi kau hubungi saya?” tanya suara di seberang. “Mau menantang bertarung? Memang kau mampu?” dia terkekeh mencemooh. Bajingan tengik, batin Bisma.

   “Aku butuh bantuanmu,” jawab Bisma tanpa basa-basi.

   “Lain hari kau tantang saya, hari ini kau tiba-tiba memohon bantuan? Apa kau tidak punya harga diri?” Heri diam menunggu tanggapan, tapi tak kunjung terdengar. Akhirnya Heri memutuskan untuk menggunakan hening tersebut untuk berpikir. Lalu sambungnya, “Tapi itu tidak gratis, Bujang ....” kata Heri. Terdengar jelas bahwa dia sangat senang.

   Bisma masih terdiam. Dia menunggu Heri melanjutkan kata-katanya.

    “Laki-laki atau perempuan?”

    “Perempuan. Kekasih para penjebak Heru di tempat judi,” jelas Bisma datar.

    “Adik saya tersayang? Si Keparat itu masih saja suka berjudi? Katakan padanya, dia itu payah! Suruh dia lihat kekacauan yang dia buat! Sampai-sampai temannya rela berlutut memohon kepada saya hahaha ....” tawanya sudah menghambur duluan sebelum Bisma sempat menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Suaranya menyakitkan pendengaran.

    “Jadi?” Bisma menanti jawaban.

    “Kirimkan lokasinya! Besok saya datangi.”

    “Jangan besok! Sekarang!” perintah Bisma.

   Heri mendesah lalu tertawa lembut. Bisma terdiam kaku, ia merinding. Dikatanya Bisma sungguh tak sabaran. Ada benarnya, namun dia punya alasan yang kuat.

    “Aku tak tahu kapan aku akan tertidur lagi!” terang Bisma agak gusar. Sebisa mungkin tak terdengar kalau dia sedang menutupi sesuatu yang lebih besar.

   “Maksudmu apa, Bujang?” tanya Heri tak mengerti. Dia masih belum tahu bahwa Bisma adalah sosok lain yang hidup dengan meminjam tubuh Heru.

   “Sudahlah! Datang saja. Kukirimkan lokasinya sekarang,” Bisma menutup telepon. Sehabis berkirim pesan, dia berangkat menuju tempat pertemuan.

   Lokasinya di daerah perumahan calon korban mereka yang pertama. Walau malam sudah mulai larut, daerah tersebut masih cukup ramai. Bisma duduk berbaur dengan warga yang sedang berkumpul di sebuah warung. Dia langsung berdiri ketika mengenali sosok yang tampak mirip dengan dirinya. Janggutnya sempat membuatnya meragu sejenak. Mereka saling menghampiri.

   Heri terkejut bukan main mengetahui bahwa Bisma adalah sosok yang dikenalnya sebagai Heru. Dia menelisik bentuk dan garis wajahnya terkagum-kagum. Lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil bersiul panjang. Memang, selama ini Bisma hanya menghubunginya lewat telepon, sedang Heru tidak mungkin mau bertemu dengan dia.

    “Lihat, fisikmu berantakan! Jangan sampai membebani saya!” celoteh Heri ketika melihat tubuh dan wajah Bisma yang penuh lebam, tak jelas karena apa. 

   Bisma diam tidak menanggapi. Dia asyik mengamati penampilan Heri, terutama sepatu yang dipakainya. Warnanya merah darah. Itu terlalu mencolok untuk digunakan saat seperti ini. Dari samping, tampak jelas puncak kepalanya pitak di bagian belakang. Tubuhnya dibalut jaket tebal berwarna gelap dan celana jeans belel yang mungkin sudah lama tidak dicucinya. Kemudian dia terlarut dalam benci akan wajah yang serupa dengannya itu, yang selalu tersenyum ramah apapun yang sedang dilakukannya. Wajah milik salah seorang di balik terpecahnya karakter Heru.

    Dalam hitungan menit, eksekusi pun dilancarkan tanpa perencanaan. Bisma yang awalnya hanya ingin menculik, menjadi was-was ketika di hari ketiga, mendapati korban-korban mereka sudah tak bernyawa. Heri berpesta tanpa sepengetahuan Bisma. Ia menghabisi nyawa ketiga perempuan tersebut di tempat persembunyian mereka. Bahkan Heri sempat memperlihatkan ginjal-ginjal mereka pada Bisma sambil tertawa-tawa. Lalu menangis dan mengaku dosa. Beruntung Heru tidak melihat satupun dari kengerian itu. Dipaksanya supaya dia tidak tertidur. Hingga malam ini, malam ketiga, Bisma tetap berkuasa. Heru yang lemah itu tampaknya masih terlalu takut untuk muncul. Atau bisa jadi, keinginan Bisma yang kuat menahan Heru untuk kembali menguasai mereka.

   “Saya lelah, Bujang .... Mari kita istirahat sejenak!” ajakan Heri membuyarkan lamunan Bisma. Kala itu, Heri baru saja mencabut pisau dari dada korban yang terakhir. Nasib korban ini nahas. Dia tinggal sendirian. Heri melihatnya sebagai peluang emas. Tak perlu susah-payah memboyongnya ke tempat persembunyian.

   Bisma mengangguk menanggapi ajakan Heri sebelumnya. Ia mengikuti Heri duduk di kursi samping meja makan. Di sampingnya, masih tergeletak mayat korban yang sudah tak berginjal. Tetapi, dia lebih mengwasi pergerakan lelaki jangkung yang sedang duduk kelelahan di hadapannya itu. Berpatokan pada sepatu merah yang paling mudah dilihatnya dalam gelap. Juga sedang mencoba mengukur waktu dengan bijak, bisakah dia melakukannya sekarang?

    Mata Sang Pelindung Heru tersebut masih terus membayangi sepatu merah lelaki di depannya, ketika kaki-kaki itu perlahan mendekatinya. Bisma menengadah. Dalam minimnya cahaya, dilihatnya Heri sedang tersenyum lebar kepadanya. Diikuti garis-garis wajahnya yang membekas dalam ingatan. Bulu kuduknya meremang. Bisma memandangnya takjub. Matanya menyiratkan tanda tanya yang tak pernah diungkapkannya.

    “Kenapa kau begitu penurut, Bujang? Kukira kau ini pemberontak? Heh?” tantang Heri.

   Bisma tak menjawab. Dibalasnya tantangan Heri tersebut dengan sorot matanya yang tajam. Di hadapan Bisma, senyum kembali mengembang di bibir gilanya.

   “Kau menjebak, Bujang?” Heri mendengus. Ia tertawa kecil. Perlahan tawanya jadi bahak. Keras dan lama.

   Bisma berdiri memasang kuda-kuda ketika pembunuh psikopat di depannya masih terus tertawa berderai-derai. Lelaki gila itu tak henti-hentinya mengatakan bahwa Bisma bodoh. Dia mulai mengasihani Heru yang harus berbagi tubuh dengan lelaki bodoh. Tapi kemudian dia bercakap lagi pada dirinya sendiri.

   “Ya ampun, terang saja dia bodoh, toh otak adik saya memang tidak mumpuni! Hahahaha ....”

   Tak kuasa membendung emosinya lagi, segera Bisma menghajar hidung Heri. Merasakan sengatan yang luar biasa, Heri pun berhenti tertawa. Dia menatap tajam pada Bisma. Lalu bibirnya komat-kamit, sambil tersenyum sinis sesekali.

    Masih di dalam rumah korban, dengan mayatnya di samping mereka, baku hantam terjadi. Tiba-tiba sesuatu dalam diri Bisma memberontak ingin keluar. Heru ingin kembali berkuasa. Dengan susah payah, Bisma terus bertahan. Dia harus memenangkan pertempuran ini dulu! Demi membalaskan seluruh dendam Heru dan juga dirinya. Meski terdengar aneh, dia ingin melindungi Heru, seseorang yang sebenarnya adalah bagian dari dirinya sendiri.

   Heri mengangkat kursi di ruang makan tempat mereka berkelahi. Lalu menusukkan salah satu kakinya ke perut kiri Bisma. Bisma mengerang hebat dan jatuh tersungkur. Wajahnya mencium lantai yang sudah digenangi darah korban. Ketika masih menahan nyeri, tiba-tiba kakinya ditarik kuat. Tubuhnya terseretseret di atas lantai. Dia meronta hingga alas kakinya terlepas dari asalnya.

    Tepat ketika diseret melewati pintu, tangan Bisma dengan cekatan berpegangan pada kedua sisinya. Ditendangnya Heri secara serampangan. Mendapat serangan yang tak bisa dihindari, Heri melepaskan cengkramannya. Cepat-cepat Bisma bangkit. Dengan sisa-sisa tenaga yang berhasil dia kumpulkan, Bisma lari sekuat tenaga. Tak ada pilihan lain. Prioritasnya kali ini adalah menjauhkan Heru dari Heri. Di dalam sana, Heru sudah semakin meronta ingin berjaga. Akan sangat berbahaya jika mereka berdua bertemu. Mereka bisa mati!

***

   Sorot mata yang awalnya sayu dan penuh ketakutan itu pun sudah berganti dengan sorot yang tajam dan menikam. Dia penuh luka karena dendam yang selalu dibawanya dalam tidur. Sepertinya sudah berhari-hari sosoknya tertidur tanpa tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Lalu kembali terbangun ketika pemilik tubuhnya sedang berada di tengah jalan beraspal. Dengan dinding gunung dan rerumputan tinggi di masing-masing sisinya. Daerah itu dikenalnya sebagai tempat persembunyian Heri. Dia lebih terkejut ketika melihat dia tengah berhadapan dengan orang gila itu. Saudara kembar dari kepribadian utamanya yang ternyata tak bisa ia hindarkan.

   Sekali lagi, mereka harus kembali bertempur. Menyadari tubuhnya sedang dalam kondisi prima, ia maju menyerang. Bisma yakin akan menang, andai saja tidak ada tiga orang berseragam yang datang dengan teriak dan peluit bisingnya. Lagi-lagi dia harus berlari. Sialnya lagi, dia tak mampu berlaga lebih lama. Entah mengapa, Heru ingin menguasai situasi kembali. Sangat kuat. Di tengah pelarian, perlahan dia menghilang. Seakan diizinkan untuk kabur dari kekacauan yang belum sempat dibereskannya.

***

   Jelas sekali ini bukan Bisma, sorot matanya sayu. Bicaranya terbata, dia penuh keraguan. Namanya Heru, Sang Pemilik. Kali ini dia duduk di salah satu deretan kursi di ujung sebuah ruang. Ruang itu, meski sudah malam tetap menerima tamu asing seperti dirinya. Beberapa di antaranya berpakaian biasa, hanya satu-dua orang yang memakai seragam. Seragam yang lain dari tiga orang yang sebelumnya sempat mengejar Bisma, tapi tentu saja Heru tidak tahu.

    Ketika melihat seseorang yang berseragam, Heru justru menghampirinya. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung minta tolong pada orang berseragam tersebut. Lalu diantar ke tempat ini; kantor polisi! Tempat yang justru seharusnya ia hindari. Heru bilang dia ingin buat laporan, sedangkan orang yang datang bersamanya ingin melaporkan dirinya.

    “Pak Heru!” seorang polisi jaga memanggilnya

    Ia tampak masih linglung. Kemudian seperti terkena sengatan lebah, ia berdiri dan 
mengaku kalau namanya adalah Heru. Dia sudah hampir lupa dengan identitasnya sendiri barangkali. Entah apa yang belakangan terjadi padanya.

   Petugas tersebut mempersilakannya untuk bicara. Juga seorang hansip--yang 
sekarang jumlahnya sudah bertambah menjadi tiga orang--duduk di samping Heru. Menghadap pada petugas jaga.

    “A ... Aku tahu pelaku kasus itu,” lapornya singkat dan tidak jelas.

    “Kasus apa? Tolong jelaskan!” seru polisi berkumis di depannya. Kumisnya ikut naik turun saat dia bicara.

    Dengan terbata Heru menjabarkan kesaksiannya tentang pelaku kasus pembunuhan berantai yang belakangan ini jadi sorotan media massa. Korbannya empat orang perempuan. Awalnya mereka diculik lalu kemudian dibunuh. Keempat jenazah korban sudah ditemukan meski tanpa ginjal. Pelakunya belum. Heru tidak tahu bahwa pelakunya adalah saudara kembarnya dan yang meminta Heri melakukan itu adalah dirinya sendiri.

   Polisi berkumis di depannya dan tiga orang hansip di sampingnya mendengarkan dengan rasa ingin tahu. Namun kemudian, tiga orang pria berseragam hijau di sampingnya buruburu merasa sangsi. Memori mereka tahu, sikap laki-laki berusia dua puluhan akhir di hadapan mereka ini menunjukkan inkonsistensi. Awalnya dia mati-matian melarikan diri dari mereka, lalu tiba-tiba datang meminta perlindungan. Mereka berpikir Heru sedang berdalih saja agar lepas dari kecurigaan.

    “Ciri-ciri. Boleh saya tahu ciri-ciri orang tersebut?” Heru tampak kembali berpikir. Terlihat ragu-ragu ketika ingin mengungkap kata-katanya.

    “Apa saja, ciri-ciri apa saja yang Anda ingat ....” pinta polisi berkumis dengan nada membujuk. Dia mencoba bersimpatik dengan kondisi Heru.

   Heru berusaha mengingatnya sekuat tenaga. Beberapa bentuk wajah muncul di ingatannya. Akhirnya dia berhasil mengingat Heri dalam lautan ingatannya yang sudah dipenuhi kapal karam. 

   “Di ... dia seorang lelaki muda, barangkali seumur denganku. Ummm ... Berjenggot dan bertubuh jangkung. Terakhir kali, seingatku dia memakai mantel tebal ... dengan celana jeans dan sepatu berwarna merah menyala seperti ... seperti darah! Umm ... lalu ... garis-garis mukanya akan terbentuk jelas ketika dia tersenyum ....” Heru menutup penjelasannya dengan keringat yang bersimbah di tubuhnya. Tiga orang di sampingnya memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah. Juga mengamati butir-butir keringat yang mengucur di dahinya. Mereka semakin curiga. Polisi di hadapannya mencatat keterangan tersebut. Tadi, beberapa kali dia sempat ingin memotong penjelasan Heru, namun selalu diurungkannya kembali. Kini pikirannya bertumpu pada hal yang lain. Dia mengamati lelaki di hadapannya lekat-lekat. Heru jengah. Dia undur diri ke kamar kecil. Semua mengangguk setuju sambil terus mengawasi.

   Langkahnya berat karena letih yang ditanggung. Kian berat ketika menyadari sepatu merah yang dikenakannya saat itu. Persis seperti yang dipakai Heri dalam ingatannya. Jantungnya berdetak kencang. Pikirannya bergemuruh. Dia semakin bergegas ke kamar kecil sebelum ia merasa ditelanjangi oleh kecurigaan.

    Di depan cermin, ketika sudah dia basuh mukanya berkalikali dan kesadarannya sudah terkumpul, wajah keparat itu kembali menghantui. Terlihat begitu mirip, hanya tanpa janggut yang menutupi dagu dan pipinya. Di sana, bayangan cermin tersenyum kepadanya. Dia membalasnya dengan garis-garis senyum yang hampir datang terlambat. Sekarang dia tahu dia merasa marah. Selalu menjadi korban, bahkan karena ulah dari sosok yang hidup dalam dirinya sendiri.


Jakarta, April 2018  

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Dua Sosok, Lima Indera Oleh Joanna Dian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel