Cerpen Penjahit Telinga Oleh Benefitasari Intan



Penjahit Telinga
Karya Benefitasari Intan Nirwana
   Dimeja kantin tempat biasa kami makan bersama, aku menunggunya datang. Tapi karena sudah diburu rasa lapar, aku memutuskan memesan duluan. Sahabatku itu memang orangnya suka terlambat, sedangkan aku bukan orang yang suka menunggu. Jadi, kursi di hadapanku masih kosong dan aku sudah bersiap menyuap nasi goring telurku ketika sahabatku itu tiba-tiba datang sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
         “Selamat ulang tahun!” serunya lantang. Beberapa mahasiswa lain yang sedang makan di sana sampai menoleh.
           “Dimana telingamu?” tanyaku ketika melihat kedua sisi kepalanya yang berlubang.
            Bibirnya langsung cemberut dan keningnya berkerut. “Kejutannya gagal,” gerutunya sambil duduk di kursi di hadapanku. “kamu sudah tahu.”
             “ Dimana telingamu?” tanyaku sekali lagi.
   Dia membuka kotak merah yang dimaksudkan sebagai hadiah ulang tahunku itu. Disana terbaring sepasang telinga yang masih lengkap degan anting-anting emasnya. Ada setitik noda darah di telinga sebelah kiri. Pasti karena itu dia memilih memasukkannya di dalam kotak berwarna merah, supaya ketidaksabarannya tersamarkan. Aku melanjutkan menyuap nasi gorengku.
          “Kenapa harus telingamu? Dua-duanya, lagi.”
         “Kamu lebih membutuhkannya daripada aku.”
         “Perlu waktu lama untuk memasangnya.”
            “Kamu mau aku menjahitkannya?”
           “Tentu saja! Tapi, jangan lupa, jahit di kepalaku, jangan di pantat. Nanti kalau aku kentut, telingamu bisa mendengarnya meski aku sudah berusaha sepelan mungkin.”
      Dia tertawa. Syukurlah, candaanku berhasil membuatnya terhibur. Pasti membutuhkan usaha keras untuk mencabut telingatelinga itu dari kepalanya. Aku tidak bisa membayangkan kegaduhan yang terjadi di kosnya ketika dia melakukan hal itu. Kalau aku tahu dia akan melepas telinganya sendiri, mungkin aku akan mencegahnya. Mungkin ya. Soalnya sebenarnya aku juga senang sekali mendapat hadiah ini. Apalagi ini adalah bagian dari dirinya. Aku berusaha keras mempertahankan ekspresi biasa saja meski sekarang di dalam hatiku seperti ada perayaan tahun baru. Aku tahu dia akan lebih senang kalau aku sedikit lebih memperlihatkan sikap antusias, tapi aku memang tidak terbiasa untuk membuatnya senang. Dengan sahabatku itu, aku hanya akan benar-benar menunjukkan keseriusanku ketika dia merasa sedih. Terus terang saja, sahabatku itu namanya Ina dan aku jatuh cinta kepadanya.
    Di perpustakaan rumahku, ada 1 rak khusus yang kuperuntukkan bagi Ina. Rak itu penuh berisi buku-buku tentangnya. Berjilid-jilid, Ina 1 sampai Ina 3. Ada juga yang tidak murni berisi tentang dirinya, fiksi yang kubayangkan terjadi pada kami. Sebenarnya aku ingin menyatukan Ina 1 sampai Ina 3, tetapi saking tebalnya, aku takut aku tidak akan kuat mengangkatnya. Seperti judulnya, buku itu berisi tentang Ina dan hal-hal yang aku tahu tentangnya. Seluruh kata-kata yang dia keluarkan selalu kubawa pulang dan kutempel pada kertas-kertas. Dengan begitu, aku bisa mengalahkan lupa.
       “Kemarin Jose menghubungi aku lagi. Katanya mau ketemu untuk membahas sesuatu,” katanya.
       Ya, terus terang saja, aku benar-benar jatuh cinta kepada sahabatku itu. Tapi, sahabatku itu mencintai orang lain.
   Aku menusuk kuning telurku dengan garpu. Berharap itu adalah orang yang dia sebut namanya barusan. “Bahas tugas, kan?” tanyaku acuh tak acuh.
       “Iya, dia minta bantuan. Tapi, habis itu kami ngobrolngobrol.”
       “Dia hanya memanfaatkanmu,” kataku, berusaha menancapkan kebencian.
      “Dia hanya memanfaatkanku,” kata Ina.
       “Kepentingannya hanyalah tugas dan dia berbicara panjang lebar denganmu untuk membuatmu nyaman,” desakku sambil berharap kebencian itu tertanam makin dalam.
       “Aku tahu kepentingannya hanyalah tugas dan dia berbicara panjang lebar denganku untuk membuatku nyaman.”
      “Berarti kamu tolol.”
      “Aku terlalu menyukainya sampai enggak bisa mengabaikannya.”
     “Tapi, dia sudah menyukai orang lain dan orang lain itu sudah menjadi pacarnya.”
      “Yaaa ... kalau sudah berusaha move on tapi tetap enggak bisa, gimana, dong?”
      “Ya itu tadi. Berarti kamu tolol. Bodoh. Goblok.” Aku akan berterus terang lagi. Aku jatuh cinta kepada sahabatku, sementara sahabatku itu mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih.
      “Habis mau bagaimana lagi,” desahnya putus asa.
      “Dasar tolol.” Kecuali bibir, seluruh bagian dari diriku bisa memaklumi Ina. Memahaminya semudah membaca diriku sendiri. Sedangkan dia memahamiku semudah dia memahami struktur bebatuan di Mars. Tapi kalau sudah cinta, mau seegois apapun niatnya, mau sebodoh apapun jadinya, yang penting bisa dekat, kan? Yaa… habis mau bagaimana lagi…

                                                                           ***

    “Aku ke sini untuk meminta jawaban.” Perempuan itu manis. Dadanya juga besar. Kulitnya yang kencang dan cerah membuatku bertanya-tanya apakah ibunya kawin dengan matahari. Terkadang aku ingin mencoba membuka punggungnya untuk mencari tahu apakah dia ini boneka robotyang diprogram untuk mengerjaiku, atau manusia sungguhan. Habisnya aku heran, masa manusia seelok dirinya mau jauh-jauh datang ke rumahku untuk menuntut satu jawaban yang sebenarnya dia sudah tahu?
   “Bukankah aku sudah menjawabnya?”
   “Kamu tidak mengatakan tidak.”
   “Tapi, sudah kubilang, kalau aku menyukaimu, akan langsung kubilang iya.”
   “Tapi, kalau kamu belum mengatakan tidak, berarti masih ada kemungkinan untukku.”
  Sesungguhnya, aku tidak ingin menyakiti siapa pun perempuan, tetapi terkadang mereka lebih suka disakiti daripada dibohongi. Jadi, apa boleh buat, aku meninggalkan Riri untuk mengambil Ina 1 sampai Ina 3 (dengan troli, tentunya), lalu kuletakkan buku-buku itu di hadapannya. Awalnya dia hanya melihat sampulnya saja, gambar perempuan yang sama yang kulukis dengan tinta emas di atas latar hitam. Lalu perlahan jemarinya yang kurus membuka Ina 1 dan matanya menelusuri halaman demi halaman. Buku itu mungkin buku paling membosankan yang pernah kutulis sepanjang sejarahku sebagai penulis amatir, jadi tidak heran kalau Riri sudah menutupnya di 10 halaman pertama.
  “Sekarang aku sedang menulis Ina 4,” kataku.
   “Apakah kau menulis sesuatu untukku?” tanyanya dengan tangan bersedekap di atas paha. Bola matanya yang keabuan sedikit lebih berair daripada yang pernah kulihat selama ini. Memandanginya seperti ini membuatku semakin yakin bahwa dia tidak berasal dari bumi. Rambutnya yang keemasan bergaul begitu mesra dengan sinar matahari. Wajahnya yang pucat semakin menampakkan bayangan bulu matanya yang lentik. Mungkin kalau tidak sedang menyukai orang lain, aku akan berpikir bahwa dia adalah manusia terindah yang pernah kulihat.
  “Ada.” Kukeluarkan notesku dan kubuka halaman tengahnya.
   27 Januari: Bertemu Riri.
   Bibir merah mudanya yang kuduga mengandung perisa stroberi itu langsung merekah. Air di matanya sekejap meresap. “Kalau begitu, aku masih memiliki kesempatan,” katanya bersemangat. Aku baru akan menjelaskan bahwa setiap janji pertemuan dengan siapa pun akan kutulis dalam notes ini, tapi Riri sudah beranjak berdiri sambil berkata, “Cukup untuk pertemuan hari ini. Aku senang sekali.” Lalu, dia melambaikan tangan dan keluar dari rumahku tanpa aku sempat mengatakan apa pun lagi.

***

    Ketika Ina mengajakku bertemu hari ini, aku langsung mereka-reka apa yang ingin dia perbincangkan. Seperti biasanya, setiap kali akan membicarakan sesuatu yang serius dengannya, aku selalu lebih dulu merobek perut kananku, lalu mengambil hatiku dari dalam sana. Hati itu kucelupkan ke dalam sebuah ember berisi semen basah, lalu kujemur hingga kering, sebelum akhirnya kukembalikan lagi ke tempatnya semula.
     Untuk berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di pertemuanku nanti dengannya, aku sudah mempersiapkan segalanya. Pisau setajam apa pun seharusnya tidak bisa menembus pertahanan yang sudah kubuat.
   “Jadi ... kemarin aku bertemu dengan Jose,” dia memulai ceritanya dengan kedua tangan diletakkan di atas meja. Aku menyedot es tehku, sambil membiarkan telinga-telingaku menangkap seluruh kata-katanya. Untung sekali telingaku ada empat, jadi makin banyak ruang untuk menampung seluruh katakatanya.
    “Kami memang lebih banyak membahas tugas, tetapi kemarin ini berbeda. Aku rasa hubungannya dengan Ivanda memburuk. Lalu dia mulai membanding-bandingkan kelebihanku dengan kekurangannya Ivanda.”
   “Itu karena dia tidak tahu kekuranganmu.”
   “Katanya, aku lebih lucu daripada Ivanda. Juga lebih enak diajak mengobrol. Katanya kalau sama aku, dia seperti enggak punya batasan untuk cerita apa pun. Kalau sama Ivanda, dia kurang bebas. Cuma yang bikin aku kalah dari Ivanda, katanya aku kurang bisa dandan. Tapi, sebenarnya aku itu cantik, dia bilang begitu.”
   “Daripada bilang begitu ke kamu, kenapa dia nggak bilang langsung ke pacarnya biar masalahnya selesai?”
  “Terus, dia tanya aku, gimana kalau dia putus. Ya aku bilang, selama hubungan itu masih bisa diselamatkan, ya pertahankan. Tapi kalau memang sudah enggak nyaman, daripada dipaksakan, ya lebih baik putus. Siapa tahu ada orang yang diam-diam lebih sayang.”
  “Ya kayak aku ke kamu, kan.”
   “Terus waktu dia minta contoh siapa orang yang diam-diam lebih sayang itu, aku jawab ‘Aku.’”
  “Kalau kamu bertanya hal yang sama kepadaku, aku juga akan menjawab begitu.”
  “Terus dia tanya, kalau dia putus, aku akan gimana.” Dia mengaitkan jari-jari tangannya begitu erat sampai buku-buku jarinya memerah. “Ya aku jawab…”
   “AKU SUKA SAMA KAMU!”
   Selantang mungkin aku berteriak, supaya aku tidak mendengar apa yang dia katakan barusan. Tapi percuma saja, dia sudah kehilangan kemampuan pendengarannya. Semua orang di sini tahu bahwa aku menyukainya dan hanya dia yang tidak mengetahui itu. Semua orang di sini bisa melihat bahwa aku menyukainya dan hanya dia yang tidak menyadari itu. Untungnya, semen yang kubuat untuk melapisi hatiku sudah sangat tebal sehingga aku tidak lagi merasakan sakit hati.
   Sekarang, aku menyesali keberadaan kedua telinga tambahan ini. Aku memang bisa menampung lebih banyak ceritanya, tetapi di saat itu juga dia akan semakin kehilangan kemampuannya untuk mendengarku. Dia tidak akan pernah mengetahui apa yang kusembunyikan dalam hati berlapis semen itu. Meski di sisi lain aku merasa membuatnya mengetahui itu hanya akan mengantar persahabatan kami ke halaman terakhir Ina 4 dan tidak ada lagi Ina 5 dan seterusnya.
   Jadi, hari itu juga, seusai pertemuanku dengan Ina, aku cepat-cepat pulang untuk merobek perut kananku lagi. Aku ambil hatiku, lalu kupukul dengan palu terbesar yang kumiliki. Kupukul-pukul sampai sedikit-sedikit balutan semennya mencuil. Kupukul-pukul lama sekali. Pertahanan yang kubuat sudah terlalu kuat sampai-sampai aku bingung sendiri bagaimana harus menghancurkannya. Ketika pada akhirnya pertahanan itu hancur, hatiku juga ikutan rusak. Patah sana sini. Tidak bisa ditambal lagi. Tapi, aku tidak peduli. Masih ada seseorang yang bisa menerima hati ini, meski sudah tidak utuh.
   Aku mengambil golok, kemudian membelah hati itu. Tidak sampai terputus. Hanya supaya aku bisa memasukkan tangan ke dalamnya dan mengambil nama itu. Mencabut nama itu dari tempatnya sesulit mencabut sebatang pohon tua dari akarnya. Telapak tanganku hanya berisi luka dan darah, tapi itu sepadan dengan hasil yang kudapatkan. Aku berhasil mencabut tiga huruf itu. Kalau sedikit lagi harus berjuang, mungkin nafasku akan benar-benar habis. Kubaringkan tubuhku. Persetan dengan lantai putih yang berubah warna menjadi merah, cuilan semen di sana sini, potongan hati yang berserakan. Aku lelah. Aku sudah terlalu lelah. Aku akan menyerah. Sudah cukup sampai di sini saja. Aku tidak akan lagi berusaha. Tidak akan lagi.
  Maka, kuambil sebuah pena dan secarik kertas. Kutulis nama seseorang yang lain di sana. Kujejalkan kertas itu ke dalam hatiku, lalu kujahit rapat-rapat. Jahitan yang sudah selesai masih kulapisi dengan lakban hitam. Baru kemudian aku memasukkan hati itu ke dalam perut kananku.
 Aku bersumpah, ini adalah kali terakhirku mengeluarkan hatiku.

                                                                                     ***

   Hari ulang tahunku bertepatan dengan kencan keseratusku dengan Riri. Dia mengizinkanku menyentuh salah satu buah dadanya, tapi aku langsung menolak. Daripada hanya salah satu, aku menginginkan seluruhnya. Biar tidak nanggung. Tapi setelah itu, giliran dia yang menolak. Pada akhirnya, dia memberikan kehadirannya sebagai hadiah ulang tahunku.
   “Hari ini adalah hari yang paling kusyukuri, karena 25 tahun yang lalu, kamu hadir di dunia ini,” katanya sambil mengusap punggung tanganku.
   “Aku juga bersyukur karena kamu yang ada di hadapanku saat ini.”
   Dia masih sama, cantik dan bersinar. Seperti putri yang terbuat dari sperma matahari. Di dalam hati yang tidak lagi utuh itu, dia sudah menjadi yang nomor satu. Dengan syarat, aku harus melanggar sumpahku. Tiga kali dalam sebulan, aku harus mengeluarkan hatiku dan memperbarui kertas bertuliskan namanya. Kertas-kertas itu begitu mudah larut meski aku sudah menggantinya dengan yang lebih tebal. Bagian paling menjengkelkannya adalah setiap kali mengambil kertas itu, aku selalu mengetahui ada sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh di sana, tetapi akarnya selalu ikut tercabut tanganku. Dan akar-akar itu seakan senantiasa tumbuh kembali, seperti tidak mengenal mati, jadi aku harus sering-sering membersihkannya. Lama-lama, dia bertumbuh semakin lambat. Lambat, lambat, dan lambat, sampai akhirnya nyaris tidak ada.
   “Terima kasih sudah menjadikanku gadis paling beruntung selama 3 tahun ini.” Bibirnya yang mungil dan kenyal mengecup pipiku, lalu dia pamit masuk ke dalam rumah. Aku sudah pernah mencobanya dan dugaanku benar, rasa stroberi.
   Sepanjang perjalanan pulang, berkali-kali kupatri dalam otak bahwa aku adalah pria paling beruntung selama 3 tahun belakangan. Dicintai oleh gadis berdada besar dan berbibir sempurna yang mau menerima hatiku yang sudah compangcamping, kurang beruntung apa coba?
  Barangkali, hati yang sudah patah di sana-sini adalah sumber masalahnya. Biarpun masih bisa digunakan, tetap saja tidak sempurna. Karena itu aku selalu merasa tidak utuh meski apa yang kupunya saat ini adalah yang paling lengkap yang bisa kumiliki.
  “Mas, tadi ada yang kirim paket.” Iyah, pembantuku, langsung menghampiriku begitu aku selesai memasukkan mobil ke garasi. Di tangannya ada sebuah kotak berbalut lakban cokelat dengan tulisan: Fragile.
  Seusai menerima benda itu, aku langsung membawanya ke kamar. Tadinya aku berniat membukanya besok, karena paket itu tampaknya sulit dibuka. Tapi, nama pengirimnya membuatku langsung mengambil gunting dan membuka paket itu dengan membabi buta.
   Di dalamnya, ada sebuah kotak merah berisi sepucuk surat dan sebuah hati yang koyakannya tidak jauh beda dengan kepunyaanku. Pertama, kubuka surat itu. Hanya ada sebaris kalimat. Selamat ulang tahun! Kedua, kubuka hati yang sudah dijahit di sana-sini itu. Di dalamnya, aku menemukan sebuah nama. Bukan di kertas, tapi terukir pada dindingnya. Namaku.

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Penjahit Telinga Oleh Benefitasari Intan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel