Kisah Pedagang Asongan Tua. Sebuah Kisah Inspiratif


Kisah Pedagang Asongan Tua
By. Elok
   Siapa yang tak mengenal Sekolah Islam Athirah Bone? Sekolah terbaik di Sulawesi Selatan ini menjadi impian sebagian besar orang untuk bisa belajar disana. Sekolah Islam Athirah Bone merupakan salah satu sekolah unggulan di Sulawesi Selatan. Sekolah yang terletak di Jl. Sungai Musi, Kel. Panyula, Kec. Tanete Riattang, Kab. Bone, Sulawesi Selatan ini berdiri sejak tahun 2011.
  
   Selain karena kekuatan akademiknya, sekolah ini merupakan sekolah terkenal di Sulawesi Selatan. Tak heran bila proses seleksi  untuk bisa menjadi siswa di Sekolah Islam Athirah Bone sangat ketat. Siswa siswi di sekolah ini pun tidak hanya datang dari Kabupaten Bone saja, tetapi juga datang dari berbagai daerah di Sulawesi bahkan diluar Pulau Sulawesi.
   
   Selain pintar, mereka yang bisa masuk di sekolah ini seringkali datang dari keluarga berada. Namun bukan berarti pelajar yang punya latar belakang sederhana  tidak bisa diterima. Bahkan, sekolah ini menyediakan program beasiswa bagi mereka yang  kurang mampu.
   
   Seperti seorang siswi bernama Khaerina Suardi asal Soppeng, Sulawesi Selatan yang lolos menjadi seorang siswi di SMP Islam Athirah Bone dengan jalur beasiswa. Sekarang ia telah menduduki bangku kelas delapan. Ia juga merupakan seorang Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah(OSIS). Rina bersama Ahmad Alfian Afifi, sang ketua OSIS adalah penggerak bagi seluruh anggota-anggotanya.
   
   Suatu hari, Alfian dan Rina diikuti pula oleh beberapa pengurus OSIS lainnya jalan-jalan ke sebuah perkampungan di sekitar daerah panyula. Sebagian besar warga di perkampungan tersebut merupakan orang non-muslim yang bisa dibilang berekonomi rendah. Tempat tinggal mereka jauh dari kata sempurna. Mereka tinggal dalam gubuk pengap beratap daun rumbia, berdinding bambu, beralaskan tanah. Di malam hari terkadang mereka sulit tidur atau bahkan tidak tidur semalaman, dikarenakan angin malam yang membuat mereka kedinginan. Meskipun dengan tempat tinggal yang seperti itu, mereka mampu menyembunyikan penderitaan tersebut dengan canda tawa mereka. Anak-anak masih bisa bermain dan berlari-larian kesana kemari diiringi gelak tawa mereka.
   
   Saat sedang asyiknya mereka jalan-jalan di perkampungan tersebut, salah seorang pengurus OSIS bernama Arsyah tiba-tiba menyaksikan suatu kejadian. Ia melihat seorang pedagang asongan yang sudah tua sedang beristirahat di pinggir jalan dengan menghitung uang hasil penjualannya. Kemudian, tiba-tiba seseorang memakai baju berwarna merah dan topi hitam serta menutupi semua bagian wajahnya berlari dengan cepat dan merebut uang yang dipegang oleh pedagang tersebut. Arsyah yang menyaksikan kejadian itu dengan sigap berlari mengejar pencuri tersebut. Hingga akhirnya ia dapat menangkap pencuri tersebut dan mengambil uang pedagang tua yang sudah direbut pencuri.
  
   “Terima kasih nak,” kata pedagang tua tersebut.
   Sontak, Arsyah berbalik dan mendapati pedagang tersebut berdiri di hadapannya dengan napas yang tersengal-sengal.
  
   “Sama-sama pak, ini uang bapak,” balas Arsyah sambil mengembalikan uang kepada pedagang tua tersebut.
  
   “Semoga tuhan memberkatimu,” ucap pedagang tersebut.
Di lain tempat, rombongan Alfian masih sibuk memerhatikan rumah-rumah warga di kampung tersebut. Kemudian seorang pengurus OSIS bernama Intan merasa salah satu dari mereka ada yang menghilang.
    “Alfian, sepertinya salah satu dari kita ada yang pergi,” ucap Intan.
Kemudian, Alfian menghitung dan memerhatikan anggota-anggotanya.
  
    “Arsyah! Kemana Arsyah?” tanya Alfian.
    “Tidak ada diantara kami yang melihatnya,” jawab salah seorang pengurus.
    Mendengar jawaban tersebut, Alfian langsung berteriak memanggil Arsyah, lalu diikuti pengurus pengurus lainnya.
    “Arsyah!... Arsyah!... Arsyah!...”
   Setelah berteriak dan memerhatikan sekelilingnya, akhirnya mata Alfian menangkap sosok yang sedang dicari. Tetapi, Alfian sedikit heran karena Arsyah sedang tidak sendirian. Ia melihat Arsyah bersama seorang bapak tua.
  
   “Teman-teman, Arsyah ada disana!” tunjuk Alfian ke arah Arsyah.
 Mereka pun menuju ke tempat Arsyah.
   “Hei Arsyah! Dari mana saja kamu?” tanya Intan.
   “Eh, hai teman-teman! Maaf tadi aku harus meninggalkan kalian, aku harus mengejar pencuri yang mengambil uang bapak ini,” jelas Arsyah.
   “Perkenalkan pak, ini teman-teman saya,” ucap Arsyah memperkenalkan teman-temannya.
   “Salam kenal,” ucap pedagang tua diiringi senyum tulusnya.
   “Teman-teman, kenalkan ini Pak Ardi. Dia seorang pedagang asongan. Saat ini, Pak Ardi telah menginjak usia 68 tahun. Ia beserta keluarganya tinggal di salah satu rumah di perkampungan yang kita kunjungi. Dia adalah seorang kristen,” jelas Arsyah.

   “Apakah bapak bisa membawa kami ke rumah bapak?” tanya Rina.
   “Tentu saja boleh.”

   Lalu, mereka pun menuju ke rumah Pak Ardi. Sesampainya mereka di rumah Pak Ardi, betapa te
rkejutnya mereka melihat pemandangan rumah Pak Ardi yang sangat jauh dari kata layak. Rumah Pak Ardi bisa dibilang gubuk berukuran 2m x 5m beratapkan jerami, berdinding kardus dan plastik, beralaskan tanah. Setelah melihat rumah Pak Ardi, mereka pun pamit untuk pulang.
  
   Di sekolah, Alfian mengumpulkan seluruh siswa dan siswi SMP Islam Athirah Bone. Ia menyampaikan hal mengenai Pak Ardi. Akhirnya seluruh siswa siswi sepakat untuk memberikan sumbangan kepada keluarga Pak Ardi.
  
   Keesokan harinya, Alfian, Rina, Arsyah, dan Intan kembali mengunjungi rumah Pak Ardi dengan membawa sumbangan dari seluruh siswa dan siswi SMP Islam Athirah Bone. Akhirnya, Pak Ardi beserta keluarganya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada mereka.
  
   Manusia merupakan makhluk yang berbeda dengan makhluk hidup lain, mempunyai pikiran, akal, dan perasaan. Namun, dengan segala pikiran, akal dan perasaannya manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain atau manusia lain dalam hidupnya. Oleh karena itu, manusia disebut makhluk sosial.
  
   Toleransi adalah suatu sikap yang saling menghargai kelompok-kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Toleransi adalah suatu perbuatan yang melarang terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat. Toleransi ini bisa terlihat jelas pada agama, toleransi agama sering kita jumpai di masyarakat. Adanya toleransi agama menimbulkan sikap saling menghormati masing-masing pemeluk agama. Dalam kata lain, bahwa sikap toleransi sangat penting karena dengan toleransilah kita dapat menciptakan sikap saling menghargai antar satu dengan yang lain.





2 Komentar untuk "Kisah Pedagang Asongan Tua. Sebuah Kisah Inspiratif"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel